Feeds:
Posts
Comments

Serial “Pengalaman CEO Jawa Pos Dahlan Iskan Ganti Liver (28) “

Tunggu Pulang Diimunisasi Hepatitis B, Saingi Cucu

TEPAT sebulan setelah transplantasi, dokter sudah mengizinkan saya pulang. Jadi, 6 September yang lalu sebenarnya saya sudah bisa kembali ke Indonesia. Tapi, tim saya, terutama Robert Lai, minta saya lebih bersabar.

Tim Surabaya juga demikian. Bahkan, ada yang minta biar enam bulan baru pulang juga lebih baik. Dia tahu, kalau pulang, saya pasti langsung lupa diri. ”Kalau selama ini sudah sabar enam bulan, mengapa tambah dua bulan lagi tidak kuat?” tambah Ir Budiyanto, perancang Gedung Jatim Expo dan Rumah Cepat Tsunami Aceh,  ketika menjenguk saya.

Dulu Budi itu, saya kira, seorang Kristen. Dia Tionghoa dan lulusan Fakultas Teknik Universitas Kristen Petra Surabaya. Sebuah  konotasi yang ternyata salah. Ini baru saya ketahui setelah bertahun-tahun kenal. ’’Apakah tidak ke gereja?’’ tanya saya saat dia mengajak rapat soal Aceh di hari Minggu. ’’Saya bukan Kristen, Pak,’’ jawabnya. Oh, berarti dia Konghucu atau Buddha. Saya berpikir salah sekali lagi. ’’Saya penganut Sapto Dharmo,’’ jawabnya.

Bahkan, kemudian, saya tahu dia salah satu tokohnya. Makanya, ketika saya ajak omong Mandarin,  dia tidak nyambung. Aneh. Dia Tionghoa,  bicaranya kromo inggil. Saya yang Jawa bicara Mandarin. Sejak itu, saya selalu kromo inggil kepadanya. Agar tidak lupa bahasa Jawa tinggi itu. Sebab, di rumah saya menggunakan bahasa Banjar. Kromo inggil pas sekali kalau dipakai bicara soal ajaran sangkan paraning dumadi, filsafat ojo dumeh dan hukum ’’timba sing kudu nggoleki sumur’’. Saling SMS dan email pun pakai kromo inggil hingga suatu saat kebentur kata forward. Nah, apa kromo inggil untuk forward?

Keinginan pasien untuk cepat-cepat pulang memang agak ajaib. Begitu seminggu setelah operasi berhasil (umumnya mereka tandai dengan bisa jalan-jalan), pasien langsung membuat rencana tanggal berapa akan pulang. Fokus pikiran sudah berubah: Pulang! Pulang! Pulang! Ini bagian dari misteri rumah, misteri kampung halaman. Itu sebabnya bahasa Inggris membedakan mana kata “rumah” (house) dan mana kata ”rumah” (home).

Suasana kebatinan setelah operasi mirip dengan setelah berhaji di Makkah. Sebelum tiba hari pelaksanaan haji, biar dua bulan menunggu pun asyik-asyik saja. Semangat menjalani ibadah luar biasa. Tawaf (berjalan memutari Ka’bah) dilakukan berkali-kali -meski ’’tawaf’’ di mal dan supermarket juga tidak bosan-bosannya. Sudah tawaf siang hari, mencoba sore hari.

Sudah pagi hari mencoba malam hari. Rasanya ingin terus dekat dengan  Ka’bah dan mencium berkali-kali hajar aswad, sebuah batu hitam (blackstone) di pojok Ka’bah. (Waktu saya menulis bahwa Tiongkok dengan kekayaan barunya sudah mampu membeli saham perusahaan raksasa Amerika yang bernama Blackstone, seorang pembaca mengirim SMS ke saya: Tiongkok sudah pula membeli hajar aswad?)

Karena itu, suasana di sekitar Ka’bah tidak pernah sepi. Kemacetan manusia selalu terjadi di sekitar hajar aswad. Mereka berebut menciumnya. Kadang dengan cara menyikut dan menyingkirkan orang lain. Saya tidak sampai hati melihat pemandangan itu. Karena itu, meski entah sudah berapa kali saya ke Makkah, saya belum bisa mencium hajar aswad -secara fisik.         Saya tidak tega kalau harus berebut seperti itu caranya. Maka, saya selalu berusaha menciumnya dengan hati saya yang dalam. ”Hati” dalam pengertian pedalaman saya -bukan hati dalam pengertian liver saya. Tuhan pasti tahu isi pedalaman saya. ’’Uda, Tuhan kita adalah Tuhan yang cerdas,’’ kata Pinto Janir dari Padang kirim SMS ke saya.

Toh mencium hajar aswad itu bukan rukun tawaf. Bahkan, Syayidina Umar pernah mengatakan, ’’Kalau bukan karena Rasulullah pernah menciumnya, saya tidak akan sudi menciumnya’’. Tentu, suatu saat saya akan menciumnya. Mungkin akan ada manajemen yang lebih baik untuk mengatur antrean itu.

Ada terus kegiatan orang di Makkah sebelum hari haji. Tapi, begitu pulang dari Padang Arafah, apalagi begitu selesai salat Idul Adha,  rasanya sudah amat berbeda. Antiklimaks yang tajam. Bagi yang masih lama dapat giliran pulang, luar biasa tidak sabarnya.

Begitu juga pasien transplan liver. Begitu bisa jalan, pikirannya sudah langsung fokus ke pulang. Maklum, sudah terlalu lama menunggu di rumah sakit ini. Sudah antiklimaks.

Pasien dari Taiwan umumnya sudah pulang sebulan setelah transplantasi. Pasien Jepang bahkan tiga minggu sudah check-out. Mereka memang tidak perlu khawatir. Di dua negara itu ada rumah sakit yang punya pengalaman merawat pasien pascatransplan.

Bahkan sudah menjadi seperti satu network dengan pusat transplan di Tiongkok ini. Sedang kalau saya pulang, kalau terjadi apa-apa, rumah sakit mana yang punya pengalaman cukup untuk pasien seperti saya?

Walhasil, saya memutuskan baru akan kembali ke Surabaya sekitar seminggu setelah Lebaran.  Kebiasaan saya Lebaran di Makkah tidak bisa saya lakukan lagi tahun ini.

Ternyata benar juga bahwa saya tidak buru-buru pulang. Saya masih harus menjalani satu proses yang amat lucu: Imunisasi hepatitis B.  Saya tersenyum mendengar bahwa saya harus menjalani beberapa kali suntikan imunisasi.  ’’Sudah umur 56 tahun baru imunisasi. Bersaing dengan Icha, cucu saya,’’ kata saya pada suster yang akan menyuntik. Suster tertawa. Saya kembali tersenyum. Kecut.

Hasil tes terakhir memang menunjukkan bahwa liver baru saya bersih. Tidak kejangkitan hepatitis atau sel bibit kanker. Karena itu harus segera dilindungi dari dua makhluk halus (karena hanya bisa dilihat oleh mikroskop) yang pernah mengancam jiwa saya itu.

Saya dapat informasi bahwa dokter-dokter anak di Surabaya juga kebanjiran bayi yang minta diimunisasi hepatitis B. Yakni pada hari saya mengungkapkan mengapa saya sampai menderita penyakit seperti itu. ’’Jam lima pagi sudah lima ibu yang mendaftar,’’ kata dr Wawan yang dulu pernah jadi anggota yang aktif di Dewan Pembaca Jawa Pos. ’’Saya kaget. Kok tumben. Oh, agak siang sedikit, saya baru tahu sebabnya. Pasti pagi-pagi mereka sudah baca Jawa Pos,’’ tambahnya. ’’Departemen Kesehatan harus membayar Anda. Kampanye yang berhasil,’’ tulisnya di SMS-nya.

Tentu, saya tidak mengharapkan bayaran itu. Saya sudah amat senang kalau tulisan saya ini memberikan manfaat. Bahkan, saya berencana mendirikan lembaga yang tugasnya gerilya ke kawasan-kawasan miskin untuk mencari anak yang belum diimunisasi.  Saya akan membiayai kegiatan itu. Saya perlu sejumlah tenaga yang punya antusiasme menangani pekerjaan tersebut.  Diam-diam, tekun, dan njlimet.

Karena teman-teman se-’’angkatan’’ saya sudah pada pulang, tinggal saya sendiri yang dari Angkatan April 2007. Tidak ada lagi teman-teman lama yang saya kunjungi setiap hari. Saya harus mencari kawan baru. Berarti juga harus mau menjadi narasumber untuk bagi-bagi pengalaman kepada mereka. Saya melakukannya dengan senang hati. Hati baru, tentunya. Saya ingin ikut memberikan semangat agar mereka optimistis menghadapi operasi besar. Saya pun merasa dapat semangat yang sama dari pasien yang menjalani transplan sebelum saya. Saya merasa mereka beri semangat. Giliran saya memberikan semangat. Toh, saya tidak harus membeli semangat.

Sebelum operasi, saya memang suka bertanya kepada pasien yang baru saja menjalani operasi. Atau ke keluarga mereka. Jawaban-jawaban itu tidak terlalu memengaruhi psikologi saya. Tapi,  begitu pertama melihat pasien yang jalan-jalan di koridor rumah sakit dengan kantong plastik berisi cairan merah menggantung di pinggangnya, saya tertegun. ’’Oh, begini ya orang habis transplantasi,’’ pikir saya. Badannya lebih kurus daripada yang saya lihat sebelum operasi. Jalannya thimik-thimik pelan. Lengannya dipegangi oleh suster. Mulutnya, juga mulut susternya, dipasangi masker.

Lalu, saya tanya kepada susternya: Sudah berapa hari dia operasi? ’’Tepat seminggu yang lalu,’’ jawabnya. Oh! Baru seminggu yang lalu! Sudah bisa jalan, meski thimik-thimik. Meski badannya kelihatan lemah, wajahnya segar. Juga lebih merah. Lebih segar dan merah daripada yang saya lihat sebelum operasi. Seminggu sudah bisa jalan! Saya pun akan begitu nanti! Seminggu, Dahlan, hanya seminggu! Sudah bisa jalan! Kau nanti juga harus begitu! Kalau perlu lima hari!

Dengan melihat contoh nyata itu, optimisme saya kian menyala-nyala. Saya kian rajin senam untuk membuat badan saya lebih segar. Saya lebih semangat makan, tanpa harus merasakan enak-tidaknya. Kalau badan saya lebih kuat, tentu lima hari setelah operasi sudah bisa jalan. Dia saja, yang badannya memang sudah kurus dan umurnya sudah 62 tahun, seminggu sudah bisa jalan.

Rasa optimistis kian hari kian besar setelah melihat pasien tadi di hari-hari berikutnya. Kian hari kian cepat jalannya. Juga kian segar badannya. Pasien kedua yang saya lihat pun begitu. Pasien ketiga juga sama. Pasien keempat, kelima, dan seterusnya. Semua kurang lebih sama. Jadi, ajaib memang transplantasi ini. Bahkan, pasien yang sebelum operasi kelihatan matanya sudah amat keruh, sudah tergeletak tidak bisa berjalan, napasnya sudah tersengal-sengal, seminggu setelah operasi juga sudah bisa jalan.

Suatu saat ada contoh-hidup yang lain. Serombongan besar orang Korea memenuhi lantai 11. Ada pemandu wisatanya. Wisatawankah mereka? ’’Mereka adalah orang-orang yang dua-tiga tahun lalu transplantasi di sini,’’ kata seorang perawat. Mereka ingin datang lagi bersama keluarga dan kerabat. Untuk menunjukkan di sinilah dulu mereka dapat sambungan nyawa.

Tiba-tiba saya penasaran, ingin bertanya masak kini mereka bisa begitu sehatnya. Ternyata dengan suka rela mereka menceritakan segala pengalamannya. Bahkan, tiga orang di antara mereka (antara umur 60 dan 70 tahun) mau saya ajak masuk kamar saya. Agar bisa bicara lebih santai. Di kamar saya semangatnya menjadi-jadi. ’’Lihat ini,’’ katanya sambil menyingkap bajunya. Terlihatlah di kulit perutnya bekas sayatan dan jahitan yang panjang. Begitu jugalah saya nanti, pikir saya.

Selama empat bulan menunggu operasi, saya hanya sekali mendengar orang meninggal. Yakni yang transplantasi enam bulan sebelumnya. Dia seorang wanita 60-an tahun dari Pakistan. Konon, seorang anggota parlemen. Transplantasinya sukses dan amat sehat. Sebulan setelah transplantasi langsung pulang. Mungkin memang politisi yang sibuk. Di negaranya langsung aktif karena memang terasa sudah amat sehat.

Perawatan terhadap slang yang masih ada di pinggangnya pun dilakukan di negerinya. Slang itu, berikut kantong plastik kecil, memang masih terus akan di situ selama tiga bulan. Tiap dua minggu harus dibersihkan dan dirawat. Agar tidak jadi sumber infeksi. Bahkan, tiga bulan kemudian, waktu seharusnya dia kembali ke Tiongkok untuk mengeluarkan benda yang dipasang untuk menyambung livernya dulu, dia tidak ke Tiongkok. Dilakukan sendiri oleh dokter setempat karena dia juga ahli. Beberapa saat setelah itu, dia bahkan pergi naik haji. Entah proses pengambilan benda asing itu yang salah  atau karena kegiatannya yang berlebihan, dia terkena infeksi. Kian lama kian parah. Lalu datang lagi ke Tiongkok untuk menyelamatkannya.

Di Tiongkok dia akan ditransplantasi sekali lagi, namun menunggu kondisi badannya stabil. Yang ditunggu tidak segera tiba. Bahkan memburuk. Dan akhirnya meninggal. Saya harus belajar dari pengalaman itu. Saya tidak harus buru-buru pulang. (Bersambung)

Source

Serial “Pengalaman CEO Jawa Pos Dahlan Iskan Ganti Liver (27) “

Liver Ganti, Khawatir Berubah Tak Bisa Menulis Baik

KARENA yang diganti ini adalah hati, apakah perasaan saya tidak berubah? Pertanyaan itu  bahkan datang dari diri saya sendiri. Sejak sebelum dilakukan transplan sampai sesudahnya.  Gara-garanya, literatur yang mengatakan bahwa  banyak kasus si penerima organ akan mengalami perubahan.

Tim saya juga mengatakan begitu. Ada yang menerima informasi bahwa kenalannya langsung berubah menjadi amat jeleknya. Liong Pangkiey,  pemilik pabrik sepatu di Surabaya yang asli Gorontalo itu, kirim SMS bahwa temannya ganti ginjal. Setahun kemudian, badannya menjadi berbulu. Ini karena donornya dari India.

Bahkan, keluarga salah satu direksi Grup Jawa Pos sendiri mengalaminya. Anaknya harus transplantasi ginjal di Guangzhou. Karena masih keturunan Arab, tentu anaknya juga masih membawa ciri-ciri fisik bapaknya. Operasi itu sukses sekali. Anaknya tumbuh dewasa,  kemudian berumah tangga. Anehnya, setelah istrinya melahirkan, anaknya seperti Tionghoa. Kulitnya putih bersih.

Suatu saat, si bapak kembali ke Guangzhou bersama anaknya yang masih kecil yang seperti anak Tionghoa itu. Maksudnya akan memeriksakan ginjalnya setelah lebih dari 10  tahun transplantasi.

Ketika di rumah sakit, si kecil pergi ke taman bermain dengan pamannya yang juga membawa ciri fisik keturunan Arab. Waktu senja sudah tiba, si paman mengajak si kecil kembali ke hotel. Tapi, si kecil tidak mau. Bahkan sampai menangis. Saat menangis itulah,  si paman memaksa menggendongnya pergi. Si kecil kian berontak dan berteriak-teriak.

Melihat orang Arab membawa pergi anak Tionghoa sampai menjerit-jerit itu, polisi turun tangan. Si paman diamankan dengan sangkaan melarikan anak penduduk setempat. Terpaksa si paman menelepon bapak si kecil. Akhirnya,  urusan selesai.

Saya sendiri, ketika baru sebulan antre untuk mendapatkan donor, membawa koran lokal yang juga memberitakan kejadian serupa. Kali ini menyangkut wanita Shanghai yang baru transplantasi jantung di Kota Shenyang. Waktu itu jantungnya mogok di atas pesawat dalam penerbangan Shanghai-Shenyang. Turun pesawat, langsung dilarikan ke RS dan harus menjalani transplantasi.

Wanita itu biasanya pemurung, tidak mau keluar rumah, penakut, dan introvert. Tapi,  beberapa bulan setelah operasi, dia mulai menyenangi internet, mengendarai mobil, dan banyak omong. ’’Bahkan kalau naik mobil   suka ngebut,’’ ujar suaminya seperti diberitakan China Daily. Yang lebih mengherankan lagi, wanita itu kemudian suka main saham di pasar modal. Koran tersebut juga menampilkan foto keluarga itu yang lagi bergurau di rumahnya. ’’Saya menjadi agak khawatir pada istri saya,’’ kata suaminya.

Saya juga sering membayangkan jangan-jangan mengalami hal yang sama. Kalau itu sampai terjadi, apakah yang paling saya takutkan?

Kekhawatiran utama saya ternyata ini: tidak bisa lagi menulis baik. Karena itu, seminggu setelah operasi, saya sudah minta laptop. Saya memaksakan diri untuk memulai menuliskan pengalaman saya ini. Sebagian agar tidak ada catatan di otak saya yang hilang, sebagian lagi untuk mengetes apakah saya masih bisa menulis dengan baik.

Kini giliran saya bertanya kepada pembaca:  Apakah ada perubahan dalam gaya penulisan saya? Memang, ada seorang teman yang setengah bertanya dan setengah menyesalkan: Penyakit kok diberitahukan ke orang-orang. Secara terbuka, di koran lagi. Kepadanya saya jelaskan bahwa saya dulu, ketika masih jadi pemimpin redaksi Jawa Pos, sering menugasi  wartawan agar mewawancarai tokoh-tokoh yang berhasil mengatasi penyakitnya. Tidak semua orang bisa menulis baik. Karena itu, harus wartawan yang menuliskan ceritanya. Karena itu, saya harus fair. Ketika saya sendiri mengalami itu, saya harus mau menuliskannya.

Tapi, mengapa tidak disertai foto-foto? ’’Bukankah Anda dulu mengajarkan setiap features harus disertai foto? Kalau perlu pinjam ke sumber berita?’’ tanya Edy Aruman, mantan redaktur Jawa Pos yang kini menjadi redaktur majalah Swa.

Saya jawab: Kali ini saya memang minta jangan ada satu foto pun yang disertakan dalam tulisan ini. Mengapa? Ada dua tujuan. Pertama, saya akan mengetes diri sendiri agar dalam tulisan ini memberikan sebanyak mungkin deskripsi. Saya sering mengajarkan kepada wartawan kami agar jangan mengabaikan diskripsi. Yakni menceritakan hal-hal detil yang dianggap sepele, tapi sebenarnya penting.  Sebuah tulisan yang deskripsinya kuat, begitu saya mengajarkan, bisa membawa pembaca seolah-olah menyaksikan sendiri suatu kejadian.  Deskripsi yang kuat bisa membuat pembaca seolah-olah merasakan sendiri kejadian itu.

Deskripsi yang kuat bahkan bisa menghidupkan imajinasi pembaca. Imajinasi pembaca kadang lebih hidup daripada sebuah foto. Inilah salah satu kunci kalau jurnalistik tulis masih diharapkan bisa bertahan di tengah arus jurnalistik audio visual.

Saya juga selalu mengajarkan agar dalam menulis kalimat-kalimatnya harus pendek. Kalimat pendek, begitu saya mengajar, akan membuat tulisan menjadi lincah. Kalimat-kalimat yang panjang membuat dada pembaca sesak. Semakin pendek sebuah kalimat, semakin membuat tulisan itu seperti kucing yang banal.  Apalagi kalau di sana-sini diselipkan kutipan omongan orang. Kutipan itu -direct quotation-juga harus pendek-pendek. Mengutip kata seorang sumber berita dalam sebuah kalimat panjang sama saja dengan mengajak pembaca mendengarkan khotbah. Tapi, dengan selingan kutipan-kutipan pendek, tulisan itu bisa membuat pembaca seolah-olah bercakap-cakap sendiri dengan sumber berita.

Alasan kedua mengapa foto tidak disertakan di tulisan ini adalah: Semua foto akan dimuat ketika tulisan ini diterbitkan dalam bentuk buku. Foto-foto seputar operasi, termasuk foto-foto liver saya yang lama.

Sebenarnya, masih ada satu lagi ide saya yang akan saya sumbangkan ke dunia jurnalistik. Ide ini sudah saya kemukakan lima tahun yang lalu, namun penerapannya masih memerlukan pembuatan software komputer. Saya tidak puas dengan lambatnya pelaksanaan ide ini karena saya tidak lagi dalam posisi pemimpin redaksi. Padahal, ide ini penting justru untuk menyesuaikan praktik jurnalistik di alam kebebasan mutlak seperti sekarang. Dalam alam demokrasi seperti ini, tanggung jawab justru lebih besar. Prinsip-prinsip jurnalistik yang baik harus lebih dipentingkan.

Misalnya mengenai cover both side,  pemberitaan yang berimbang. Maka, saya ingin di setiap komputer yang digunakan reporter dilengkapi software check-list. Setiap kali  reporter selesai menulis berita kan harus mengirimkannya ke redaktur untuk diedit. Dalam proses pengiriman berita dari komputer ke komputer itu, reporter harus menekan tombol ’’kirim’’.  Nah, saat menekan tombol ’’kirim’’ itulah, saya ingin agar di layar komputer muncul dulu sejumlah pertanyaan yang harus diisi si reporter. Misalnya: Apakah Anda sudah membaca ulang tulisan Anda? Di belakangnya dimunculkan kolom isian: sudah dan belum. Kalau ’’belum’’, dia tidak akan bisa menekan tombol ’’kirim’’. Lalu, pertanyaan sudah berimbangkah berita yang Anda tulis? Apakah pihak-pihak yang Anda tulis sudah diwawancara? Dan seterusnya. Setiap pertanyaan disertai kolom isian. Kalau tidak mengisinya, si reporter tidak bisa menekan tombol ’’kirim’’. Kalau kelak ada reporter yang menipu dengan cara mengisi kolom yang salah, tanggung jawabnya jelas.

Saya berharap software yang saya inginkan itu segera dibuat. Lalu, Jawa Pos-lah yang pertama menerapkannya. Itu bukan saja menjadi sumbangan saya ke dunia jurnalistik berikutnya,  tapi juga sumbangan IT ke dalam jurnalistik. Maka, saya bisa menyumbangkan ilmu  manajemen ke dalam jurnalistik melalui penerapan ’’rukun iman’’ Jawa Pos. Lalu,  menyumbangkan software untuk prinsip cover both side yang penting itu. Di tulisan mendatang saya juga akan menceritakan sumbangan ’’ilmu tauhid’’ ke dalam bisnis dan manajemen.  Sumbang-menyumbang dari satu disiplin ilmu ke ilmu yang lain, apa salahnya dilakukan.  Untuk kemajuan.

Saya sendiri tidak tahu apakah tulisan saya mengenai pengalaman ganti liver ini masih mencerminkan doktrin jurnalistik saya itu. Kalau tidak, berarti juga ada kemunduran dalam kemampuan saya menulis. Dan jangan-jangan, itu karena saya ganti liver.

Setiap membicarakan persiapan transplantasi,  tim saya ternyata juga sering menyinggung kemungkinan perubahan perilaku saya pascatransplantasi. Tentu dengan nada penuh humor. Melinda Teja, bos Pakuwon Jati itu,  misalnya. ’’Saya sangat khawatir kalau liver yang didonorkan itu punya sifat asli seorang gay,’’ gurau Melinda. ’’Kalian yang laki-laki harus waspada,’’ tambahnya.

’’Saya justru khawatir kalau itu liver Laura,’’ ujar yang lain. ’’Kita harus segera carikan pekerjaan yang cocok,’’ tambahnya. Laura yang dimaksud adalah ’’lanang ora, wedok ora’’ (tidak laki-laki dan juga tidak perempuan).

Sampai hari ini, saya belum merasakan perubahan apa-apa. Tapi, diri sendiri kadang memang tidak bisa merasakan. Orang lainlah yang tahu. Kalau saja seperti itu, tentu saya berharap segera diberi tahu. Jangan hanya dijadikan bahan gosip semata.

Yang jelas sudah berubah adalah perut saya.  Akibat sayatan pisau bedah yang panjang, kulit perut saya tidak mulus lagi. Ada sederet bekas jahitan yang kasar. ”Rupanya, tim dokter tidak membawa ahli obras malam itu,” ujar tim kami. Karena itu, saya lagi mengusahakan untuk memperhalusnya. Ada cara yang katanya cukup mujarab. Terutama yang biasa digunakan ibu-ibu yang melahirkan secara caesar. Lebih terutama lagi ibu-ibu di Amerika. Yakni silicon scar treatment. Saya masih memesannya lewat internet karena hanya di AS barang itu dijual. Kalau saja usaha itu tidak berhasil, anggaplah saya baru saja melakukan caesar tiga kali berturut-turut. (Bersambung)

Source

Serial “Pengalaman CEO Jawa Pos Dahlan Iskan Ganti Liver (26) “

Transplantasi Berhasil, Istri Gembira karena Wajah Berubah

KALAU saja foto liver lama saya dimuat di koran tanpa penjelasan (foto-foto itu akan dimuat di edisi buku), setidaknya akan muncul tiga versi tanggapan. Orang di desa saya akan langsung mengatakan, ’’Pasti ini karena disantet’’. Begitu jugalah dulu penilaian terhadap ibu saya. Juga terhadap kakak saya.

Liver saya memang seperti daging yang dibakar setengah matang! Pasti ketika menyantet saya, si penyantet membeli hati sapi dulu. Lalu memanggangnya. Asapnya lantas di-email-kan ke dalam tubuh saya. Karena maraknya pandangan santet di masyarakat kita, maka yang maju lantas dunia mistik dan bukan rasionalitasnya.

Pandangan kedua akan datang dari kalangan agama yang berpandangan sempit. Yang suka marah-marah, termasuk di mimbar Jumat. Kalangan ini, kalau melihat hati seperti itu, akan langsung mengambil kesimpulan: Tuhan telah murka padanya. Bahkan, bisa-bisa mengerasnya liver saya diterjemahkan ke dalam bahasa Arab ’sadat qulbuha’ (sudah keras hatinya), agar mirip dengan ayat Quran yang sangat terkenal, ’’… fasadat qulubuhum”.

Kalangan ini sudah kritis lagi, karena emosi lebih besar daripada rasio. Bahkan, lupa bahwa kata dalam bahasa Arab ’qalb’ (kalbu) artinya bukan hati -dalam pengertian liver. Liver bahasa Arabnya ’kabid’. Lupa bahwa ’qalb’ itu artinya jantung. Ini memang agak kacau.

Direktur Radar Banyuwangi, Samsudin Adlawi (Udi), orang yang paling jago bahasa Arabnya di lingkungan Grup Jawa Pos, pernah saya Tanya arti ’qalb’. Ini karena saya juga ragu akan ingatan bahasa Arab saya. Begitu saya tanya, Udi spontan menjawab: qalb artinya hati!

Lantas saya tanya lagi. Mengapa kok lambang cinta itu gambar jantung? Mengapa dalam bahasa Inggris disebut heart? Dan, dalam bahasa Mandarin disebut xin? Rupanya dia baru berpikir ulang. Lalu bergegas meralat jawaban pertamanya. ’’Saya tadi salah. Memang qalb itu artinya jantung. Sedang liver adalah……” kata Udi yang juga sastrawan itu. Bayangkan, Udi yang demikian mahir bahasa Arab terbius oleh sesuatu yang salah, tapi sudah memasyarakat.

Memang, kita lupa mempersoalkan mengapa para ahli bahasa dulu menerjemahkan kata ’liver’ (bahasa Inggris) menjadi ’hati’ dalam bahasa Indonesia? Kini sudah sulit mengubah agar liver jangan lagi diterjemahkan menjadi ’hati’. Sudah telanjur begitu mendarah-mendaging. Kalau diubah, nanti bisa banyak sekali konsekuensinya. Misalnya kata ’patah hati’ harus diubah menjadi ’patah liver’. Atau ’patah jantung’ (broken heart).

Jadi, sebaiknya, urusan ilmiah memang jangan terlalu dikait-kaitkan dengan keyakinan keagamaan, apalagi ketakhayulan. Kalau toh dikaitkan, harus dalam rangka dzikir, bahwa Tuhan telah memberikan manusia otak yang luar biasa cerdasnya. Begitu hebat pemberian itu sehingga harus digunakan sebanyak-banyaknya. Padahal, orang yang paling pinter pun baru menggunakan sebagian saja otaknya. Kita-kita barangkali baru menggunakan lima persennya. Kita tidak boleh memubazirkan rezeki dari-Nya itu. Kalau sedikit-sedikit sudah harus lari ke doktrin, kita akan semakin terbiasa tidak menggunakan ciptaan-Nya itu.

Maka, kalau istri saya merasa sangat gembira akan keberhasilan transplantasi liver ini, antara lain karena wajah saya kini sudah sedikit berubah. Dia tidak perlu lagi menghadapi rasa malu karena suaminya meninggal dalam keadaan wajah menghitam.

Memang setelah 1,5 bulan transplantasi, wajah saya yang sudah dua tahun menghitam, kini kembali … hitam. Maksud saya kembali ke hitam yang aslinya. Bukan hitam karena sirosis. Kini wajah saya sudah boleh dibilang kembali seperti hitamnya kereta api (duile!), meski hitam banyak yang antre. Imbuhan kata terakhir itu bukan asli ciptaan saya. Anak kalimat itu adalah keputusan yang diambil dalam kongres para pemilik kulit keruh, untuk sedikit mengangkat derajat mereka.

Kini kaki saya juga tidak bengkak lagi. Meski begitu, saya masih sering memijit-mijitnya. Setengahnya karena sudah menjadi kebiasaan selama dua tahun terakhir, setengahnya lagi untuk mengetes apakah dekok akibat pijatan itu bisa cepat kembali. Ternyata biarpun saya pijit kuat-kuat, bukan lagi dekoknya cepat kembali, bahkan tidak bisa dekok sama sekali. Dulu, setiap memijat kaki, selalu berharap ada mukjizat atau keajaiban. Tapi, setiap kali saya memijit kaki, setiap itu pula saya disadarkan bahwa keajaiban tidak berlaku di bidang yang amat scientific ini.

Kini saya kembali sering memijit kaki saya dengan sangkaan sebaliknya: jangan-jangan bengkak lagi. Saya juga tidak lagi membenci kaus kaki. Tapi, pada keadaan ’tidak membenci kaus kaki’ itu, justru saya tidak terlalu memerlukannya. Tanpa kaus kaki pun kini perut tidak merasa kembung.

Bagaimana dengan payudara saya? Tiap hari saya masih meraba-rabanya. Masih tetap besar, tapi sudah mulai mengencang. Dokter bilang, lama-lama juga akan kembali normal. Saya belum bisa memperkirakan apakah saya akan lebih senang dengan payudara saya yang asli. Atau justru sudah terbiasa nyaman dengan payudara seperti gadis yang menginjak remaja.

Limpa saya, yang meski sudah dipotong sepertiga, tapi masih dua kali lipat lebih besar dari limpa asli, lama-lama juga akan kembali normal. Demikian juga saluran pencernakan yang telanjur ’dilaminating’. Tidak perlu lagi dilaminating kedua atau ketiga.

Membaca SMS mengenai mulai pulihnya organ-orang di tubuh saya, seorang teman masih sempat menggoda saya dari Musi Banyuasin, Sumsel, sana: ’’Apakah bulunya yang dicukur juga sudah kembali normal?’’ tulisnya di SMS. ’’Untung, dulu tidak jadi minta dikembalikan. Bisa-bisa susternya marah dan mengembalikannya ke dekat payudara,’’ tambahnya.

Kini saya sudah bisa membuat perencanaan. Dulu, begitu tidak pastinya penyembuhan sakit saya, saya tidak berani bikin perencanaan yang agak panjang. Bahkan, tidak berani bikin janji kapan menerima tamu dan kapan harus rapat. Kecuali yang amat penting.

Perencanaan pertama yang muncul di pikiran saya adalah apa yang diucapkan Cak Nur. Yakni, ketika pemikir itu ditanya mengenai apa bagaimana berislam yang baik dan enak. ’’Bekerjalah yang sungguh-sungguh,’’ kata Cak Nur. Lalu mengisahkan keberhasilan Daud mengalahkan Jalut (Goliat). Di akhir ayat yang mengisahkan soal ini, tertulis ’’Bekerjalah, wahai keluarga Daud, sebagai tanda syukur kepada-Ku’’. Bersyukur dengan cara bekerja keras. Itulah juga yang akan saya tiru. Saya akan mensyukuri keberhasilan transplantasi liver saya dengan meneruskan kerja keras. Apalagi, seperti dikatakan Cak Nur, bekerja adalah tingkatan syukur yang tertinggi setelah mengucapkan alhamdulillah dan istighfar (minta ampun).

Saya sudah beberapa kali mengucapkan alhamdulillah. Juga sudah sering mengucapkan istighfar. Tinggal, begitu sembuh, kerja keras lagi. (Bersambung)

Source

Serial “Pengalaman CEO Jawa Pos Dahlan Iskan Ganti Liver (25) “

Prihatin atas Keprihatinan terhadap Wajah Hitam Saya

’’SAYA nanti juga akan meninggal dengan wajah hitam,’’ kata saya kepada istri saya. Saya ingin menyiapkan mental istri saya bagaimana harus menahan rasa malu. Terutama di mata keluarga dan teman-teman pengajiannya.

Istri saya memang aktif di perkumpulan Pengajian Wanita Surabaya (Pengawas), satu perkumpulan yang amat besar dan aktif. “Saya nanti akan seperti Cak Nur,” tambah saya.

Itu saya lakukan karena istri saya juga mendengar omongan orang tentang Cak Nur. Dia juga mendengar ada khatib di sembahyang Jumat yang mengatakan Tuhan murka pada Cak Nur (Nurcholish Madjid, tokoh pembaruan pemikiran Islam). Buktinya, ketika meninggal,  wajahnya menghitam.

Istri saya memang sudah beberapa lama kelihatan prihatin melihat perubahan di wajah saya. Saya prihatin atas keprihatinannya itu. Maka, saya perlukan bicara soal mengapa wajah saya menghitam dan mengapa ada orang menilai Cak Nur seperti itu.

Saya jelaskan sebisa-bisa saya bahwa ”wajah hitam” Cak Nur sebenarnya tidak ada hubungannya dengan kemurkaan Tuhan. Tuhan itu tidak punya hobi murka seperti khatib yang mengecam Cak Nur itu. Tuhan itu Maha Pengasih dan Penyayang. Sampai di sini saya sadar bahwa istri saya sudah sangat sering mendengar khotbah sehingga saya tidak perlu menambahinya. Apalagi khotbah saya kurang meyakinkan. Saya memilih menjelaskannya secara ilmiah saja.

Mengapa wajah Cak Nur, juga wajah saya, menghitam?  Ya, begitulah memang salah satu perubahan fisik yang dihasilkan oleh liver yang terkena sirosis. Ini berlaku pada siapa saja. Yang Islam, yang Kristen, yang Buddha, yang Hindu, yang Kejawen, yang komunis, dan yang tidak punya aliran apa pun -free thinker.

Wajah hitam adalah tanda-tanda perubahan fisik dari sirosis yang parah. Karena itu, kalau Anda sakit liver, minta saja meninggal sebelum sirosis parah. Terutama kalau Anda ingin meninggal dengan wajah yang tidak hitam. Terjadinya wajah hitam itu sama dengan akibat sirosis yang lain: Kaki yang bengkak, payudara yang membesar, dan kemudian muntah darah. Untung, tidak ada penilaian bahwa siapa yang meninggal dengan payudara besar berarti dimurkai Tuhan.

Sebenarnya, masih banyak lagi tanda fisik lain. Yakni kulit menguning, mata juga menjadi kekuning-kuningan, bibir pucat, dan telapak tangan seperti tidak berdarah. Terutama kalau telapak tangan baru saja digenggamkan. Begitu genggaman dibuka, darah seperti tidak segera kembali memerahkan telapak tangan.

Bahwa ada khatib yang menilai wajah Cak Nur yang menghitam sebagai tanda bahwa Tuhan tidak mau menerima rohnya, sebabnya mungkin si pengkhotbah tidak sempat belajar ilmu yang lain -misalnya, karena terlalu larisnya. Bahkan,  sang khatib begitu sibuk berkhotbah, kadang isi khotbahnya ya hanya yang diketahuinya itu saja. Diulang-ulang. Seperti kaset lama yang diputar terus-menerus.

Pasti si pengkhotbah juga tidak pernah melihat wajah mayat Mao Zedong. Setidaknya tidak pernah membaca tentang itu. Setidaknya lagi, kalau toh pernah membaca, tidak sampai menjadikannya pertimbangan. Mao adalah pendiri partai komunis Tiongkok yang tentu saja tidak mengakui adanya Tuhan.

Namun,  bagaimana wujud wajah mayatnya? Saya pernah melihatnya dua kali. Wajahnya putih, bersih, dan amat cerah. Bibirnya menunjukkan senyum kecil seperti amat bahagia di akhir hayatnya. Mayat itu sampai sekarang masih bisa dilihat di Beijing. Orang antre untuk menyaksikannya.

Demikian juga di Kremlin, Moskow. Mayat Lenin, salah satu pendiri komunisme sedunia, terlihat putih, bersih, dan manis sekali. Saya juga pernah mengunjunginya. Apakah itu pertanda roh Lenin diterima dengan senang oleh Tuhan? Lebih diterima daripada Nurcholish Madjid? Meski Cak Nur tokoh Islam dan Lenin tidak mau mengakui adanya Tuhan? Bahkan menjadi pelopornya? Wallahu a’lam.

Yang jelas, Lenin, dan juga Mao, tidak meninggal karena sirosis.

Saya sangat prihatin atas keprihatinan istri saya. Tapi, saya juga prihatin memikirkan bagaimana umat di masa depan. Dengan pola berpikir seperti itu, apakah umat akan bisa maju? Apakah tidak semakin ketinggalan dan kemudian terpojok? Lalu, introvert dan mencari kompensasi dalam bentuk ekstremitas?

Saya prihatin karena dengan pola pikir yang seperti itu, keseimbangan antara dunia dan akhirat tidak memadai. Banyak memang orang yang terlalu berat ke duniawi, tapi juga bukan berarti harus dibalas dengan bersikap lebih berat ke ukhrowi. Semua harus seimbang: beribadah sungguh-sungguh seperti besok akan mati saja,  bekerja sungguh-sungguh seperti akan hidup seribu tahun.

Kalau ukuran diterima Tuhan atau tidaknya seseorang dilihat dari wajah mayatnya, betapa suramnya kemajuan ilmu pengetahuan di masa depan. Bagaimana kita bisa mengharapkan kemajuan dan kemodernan sebuah negeri kalau penduduknya -terutama para pemimpin penduduk itu- berpikiran demikian.

Dan lagi, ada satu kenyataan yang lebih pahit. Bukankah kini sudah ditemukan cara membuat wajah orang yang meninggal kelihatan tersenyum? Cerah dan bahagia? Lantas, apakah itu berarti ukuran diterima atau tidaknya sebuah roh oleh Tuhan ditentukan oleh para ahli perias mayat?

Saya punya teman yang bisnisnya event organizer (EO). Tapi, EO khusus untuk orang meninggal. Mulai penyediaan pakaiannya, membentuk tubuh dan wajahnya, menyediakan peti matinya, angkutan ke kuburannya, sampai mencarikan siapa yang akan jadi pengkhotbahnya. Dia begitu menghayati bisnisnya itu sehingga akan terus mendalami ilmu di bidang itu. Satu-satunya anaknya (perempuan) dia sekolahkan khusus bagaimana memelihara mayat.             Bagaimana membuat wajah orang meninggal menjadi lebih ganteng dan cantik daripada ketika masih dalam hidupnya. Bahkan, ilmu itu juga berkembang ke arah sebelum kliennya meninggal. Yakni bagaimana menyiapkan agar bisa meninggal dengan wajah tersenyum.

Tapi, saya juga sadar bahwa istri saya mungkin tidak gampang menerima penjelasan saya itu. Sebab, penjelasan seperti itu amat jarang dilakukan orang. Tapi, setidaknya, dia bisa menutup sedikit rasa malu karena suaminya meninggal dengan wajah menghitam. Bisa punya alasan -yang meskipun mungkin juga dia ragukan kebenarannya. Ragu karena bukan penjelasan seperti yang saya ucapkan tersebut tidak pernah didengarnya. Yang sering diperdengarkan kepadanya adalah kaset lama yang diputar tidak henti-hentinya itu. Dalam teori komunikasi, kebohongan pun kalau terus-menerus dijejalkan akan jadi seperti kebenaran.

Padahal, kaset lama itu bukan juga kebohongan. Tapi, penafsiran. Sebuah penafsiran yang sangat bisa memuaskan orang dari sisi emosinya. Kebohongan saja bisa menang, apalagi bukan kebohongan. Berdasar teori itu, satu penjelasan yang benar tidak akan bisa menang atas kebohongan yang terus-menerus dikampanyekan.

Agama memang akan menghadapi tantangan yang hebat. Kini bukan hanya Islam, tapi juga Kristen. Setelah abad informasi sekarang ini,  akan ada abad baru lagi. Dulu kita masih meraba-raba ’’abad apa gerangan yang akan menggantikan abad informasi?”. Kita pernah mengalami berturut-turut, ’’zaman batu’’, ’’zaman besi’’, ’’zaman cocok tanam’’, ’’zaman industri’’,  ’’zaman teknologi’’, dan ’’zaman informasi’’.  Kini semakin jelas dunia akan mengalir ke zaman apa. Saya kira, zaman baru yang akan kita masuki adalah ’’zaman biologi’’.

Di zaman itu kehidupan akan bisa direkayasa, diperbaiki, bahkan diciptakan. Kehidupan tanaman, binatang, dan juga manusia. Tidak perlu lagi transplantasi seperti saya, tapi liver (dan organ apa pun) bisa direparasi dengan penemuan lebih lanjut dari pendalaman terhadap DNA manusia. Dan, itu bukan lagi akan ditemukan, tapi sudah ditemukan. Penemunya kini lagi merahasiakannya sampai pada akhirnya dia akan bisa memproduksi sesuatu yang bisa dijual secara masal dan terjangkau. Agar bisnis di bidang ini menjadi amat besar.

Operasi tidak perlu lagi. Transplantasi tidak dibutuhkan. Bahkan, orang tidak perlu sakit. Sehat terus-menerus. Cukup membeli produk baru itu nanti. Kini pun barang itu sudah bisa diproduksi sebenarnya. Tapi, karena belum ditemukan kombinasi-kombinasinya, harganya bisa jadi masih Rp 10 miliaran.

Dengan harga setinggi itu, meski saya pun akan membelinya, tapi hanya berapa juta yang mampu beli? Bandingkan, kalau kelak, harganya tinggal Rp 1 jutaan.

Betapa besar bisnis itu. Ia akan mengalahkan bisnis obat yang sudah amat raksasa itu. Bahkan akan mengalahkan bisnis minyak dan gas. Mengapa? Penemuan lebih lanjut dari itu adalah lahirnya sumber energi baru yang sama sekali tidak kita bayangkan.

Kalau kehidupan sudah bisa dibikin, bagaimana kita akan menafsirkan ajaran agama? Orang boleh tidak percaya seperti juga zaman dulu tidak percaya akan bentuk dunia yang bulat.  Tapi, ini akan menjadi kenyataan. ’’Akan’’ di  situ tidak lama lagi. Kata ’’akan’’ mungkin kurang tepat. Yang tepat ’’segera’’.

Maka, apa yang ditulis Agus Mustofa di buku-bukunya, terutama mengenai Kitab Kejadian, sungguh menarik dan akan cocok dengan zaman baru itu nanti. Yakni jangan lagi kita membayangkan bahwa manusia pertama dulu dibuat dari lempung, lalu lempung itu di-emek-emek, dibentuk seperti boneka, kemudian Tuhan meniupkan roh ke ubun-ubunnya.

Penggambaran seperti itu, meski ternyata memang tidak ada di kitab suci, amat melekat di setiap manusia. Juga melekat di pikiran saya. Saya tidak pernah mempersoalkannya secara kritis. Bahkan tidak pernah mengecek ulang apa bunyi ayat yang sebenarnya dari penggambaran seperti itu.

Cerita itu sama melekatnya dengan istilah ’’memanjatkan doa’’ yang sering kita lakukan sampai sekarang. Kita, terutama saya, tidak pernah mempersoalkan apakah teknik menyampaikan doa seperti itu masih cocok dengan abad informasi seperti sekarang.  Mengapa di zaman komputer, e-mail, dan SMS ini kita masih mengirim doa dengan menggunakan teknik ’’memanjat’’. Alangkah lambatnya doa itu akan sampai.

Tentu kata ’’memanjat’’ hanya simbolisasi atau penyastraan. Dan lagi, Tuhan toh tidak akan membedakan doa yang dikirim dengan cara dipanjatkan, yang di-e-mail-kan, atau yang di-compress-kan seperti yang dilakukan golongan tasawuf Shatariyah. Tapi, penggunaan term ’’panjat’’ juga mencerminkan ketertinggalan kita dalam menggunakan teknologi yang tersedia. Pak Nuh, mantan rektor ITS yang kini menteri informasi, bisa malu. (Bersambung)

Source

Serial “Pengalaman CEO Jawa Pos Dahlan Iskan Ganti Liver (24) “

Istri Khawatir Saya Meninggal dengan Wajah Menghitam

SAYA tidak berhasil menyembunyikan perubahan di wajah saya. Padahal, dua tahun lamanya saya berhasil menyembunyikan bengkaknya kaki. Juga bengkak di badan. Menyembunyikan membesarnya payudara. Yang tak kalah penting, saya berhasil menyembunyikan keloyoan fisik saya.

’’Empat tahun saya bekerja dengan Anda. Sedikit pun saya tidak merasakan bahwa Anda mengidap penyakit begitu gawatnya,’’ ujar Hadi Ismoyo, manajer di perusahaan minyak milik Pemda Jatim. Perusahaan minyak itu masih baru sehingga saya harus banyak belajar, diskusi, rapat, dan negosiasi.

’’Selama ini tidak tampak kegelisahan sedikit pun tatkala tampil di banyak kegiatan masyarakat,’’ tulis Lusye, pecinta Jawa Pos dari Manyar Jaya. ’’Kalau tahu seperti ini, saya tidak akan sampai hati mengejar-ngejarnya selama ini,’’ ujar Gunawan, direktur di perusahaan minyak kami.

Ya, saya memang berhasil menyembunyikan semuanya. Tapi, saya sebenarnya tidak sengaja menyembunyikannya. Kalau ada yang bertanya tentang penyakit saya, selalu saya jawab apa adanya. Cuma, memang tidak banyak yang bertanya. Kalau ada yang bertanya pun, seperti para manajer di Perusda PT PWU Jatim, jawaban saya jujur, tapi saya sampaikan dengan nada yang menyenangkan.

Menceritakan penyakit dengan cara yang menyenangkan, itulah kuncinya. Pernah dalam satu rapat evaluasi bulanan yang amat disiplin di PT PWU, saya jelaskan semua penyakit saya. Juga bahaya-bahayanya. Mereka memang ngeri mendengarnya, tapi juga tertawa-tawa. Setelah itu rapat evaluasi berjalan seperti biasa. Yang harus dimarahi, ya dimarahi. Yang harus dipuji, ya dipuji. Tetap saja persoalan rumit-rumit, harus dipecahkan. Padahal, persoalan Perusda tidak hanya soal bisnis, tapi juga politis.

Tapi, sebenarnya, saya tidak berhasil menyembunyikan berubahnya wajah. Kulit saya yang aslinya memang agak hitam menjadi kian hitam. Terutama di dahi dan sekitar mata. Hitam yang tidak merata itulah yang kian mencurigakan. Saya akan menyembunyikannya dengan cara meratakannya. Tapi, bagaimana caranya? Atau pakai make up saja. Tapi saya kan laki-laki? Bahkan laki-laki yang bukan metroseksual?

Tak pelak lagi, banyak orang yang mulai rasan-rasan (membincangkannya), menggosipkan wajah saya. Gosip yang tidak menyenangkan. Untunglah, saya sudah sering digosipkan sehingga sudah agak kebal. Tapi, ini gosip yang benar. Dan, memprihatinkan. Gosip itu bukan lagi masih menyangkut fisik, tapi sudah masuk ke tataran psikis. Terutama psikis istri saya. Psikis seorang wanita yang sangat kuat memegang prinsip agama.

Suatu saat istri saya memandangi wajah saya lama sekali. Lalu memberikan komentar yang sudah sering saya dengar itu. Ada nada sedih ketika mengucapkan itu. Sedih bercampur perasaan malu. Karena itu, kadang dia hanya memperhatikan wajah saya tanpa mengucapkan komentar apa-apa. Pandangannya penuh keprihatinan. Saya tahu dia menyimpan dua kekhawatiran. Pertama, khawatir akan kesehatan saya. Kedua, merasa malu kalau saja saya meninggal dalam keadaan wajah yang menghitam.

Sudah menjadi opini awam bahwa seseorang yang meninggal dalam keadaan wajah yang menghitam, tandanya tidak diterima oleh Tuhan. Tuhan murka padanya. Kalau sampai itu terjadi pada saya, alangkah malunya istri saya. Apalagi dia aktif di kegiatan keagamaan. Suaminya meninggal dalam keadaan dimurkai Tuhan. Karena banyak sekali dosa yang diperbuatnya. Dosa sebagai lelaki, dosa sebagai atasan yang kejam, dosa sebagai pribadi yang sombong, dosa sebagai suami yang amat sibuk, dosa orang kaya yang pelit, dan tentu masih banyak sekali sisi negatif yang bisa dihubung-hubungkan.

Pembicaraan seperti itu kian kuat ketika Cak Nur meninggal dalam keadaan wajah menghitam. Ada yang menilai, itu sebagai bukti bahwa Cak Nur dimurkai Tuhan. Ini karena dosa-dosanya yang tidak terampunkan. Yakni, dosa karena dia telah menyekulerkan Islam. Yakni, ketika memelopori pembaharuan pemikiran dalam Islam yang menghebohkan pada 1970-an. Sampai-sampai disebutkan Cak Nur lagi mendirikan neo-Islam. Begitu hebatnya tentangan akan langkah Cak Nur tersebut sehingga sampai ada yang memvonis Cak Nur sudah murtad.

Tentu saya bukan apa-apa dibanding Cak Nur. Saya bukan intelektual. Bukan budayawan. Bukan sarjana. Bukan ahli agama. Saya memang pernah mau didapuk jadi kiai di pesantren saya, tapi saya menolak. Ini karena saya sadar bahwa saya turunan dari jalur wanita (ibu) di struktur pesantren itu.       Kebetulan yang dari jalur laki-laki masih kanak-kanak. Mengapa masih kanak-kanak? Karena pesantren kami kehilangan dua generasi sekaligus. Para kiai sepuh (enam orang bersaudara, paman-paman ibu saya), dan anak-anak mereka yang sudah dewasa, dibunuh PKI dalam peristiwa Madiun, pada 1948. Tapi, saya harus tahu diri bahwa kalau dia sudah dewasa, dialah yang punya hak mewarisi pesantren itu.

Saya lantas memilih ’uzlah’ -menyingkir, menjauh, dan merenungkan masa depan. Bukan karena ngambek, tapi sebagai perwujudan sikap tawaduk seperti yang dicontohkan bapak saya. Toh saya akan tetap bisa berperan di pesantren itu kelak, yang mungkin tidak kalah besarnya. Apalagi saya juga baru gagal dalam pemilihan ketua umum pengurus besar Pelajar Islam Indonesia (PII) di Bandung, kalah dengan Yusuf Rahimi, tokoh dari Ambon.

Saya mengambil kesimpulan, tidak akan bisa jadi kiai dan tidak bakat jadi politisi. Karena itu, saya bergegas mengambil keputusan pindah ke jalur hidup sama sekali.

Sikap tawaduk yang sama saya lakukan juga di Jawa Pos pada 1980-an. Ketika Pak Eric Samola, direktur utama Jawa Pos saat itu, jatuh sakit, saya tidak mau menggantikannya sebagai Dirut. Padahal, sakitnya beliau amat berat sehingga tidak punya kemampuan menandatangani dokumen perusahaan. Beliau terkena stroke yang sampai mengakibatkan tidak bisa bicara dan harus diopname bertahun-tahun.

Saya memilih mengerjakan saja semua pekerjaan direktur utama, tanpa menyandang jabatannya. Saya tetap direktur saja. Karena hal itu sudah berlangsung tiga tahun, lantas muncul kesulitan teknis. Banyak dokumen bank yang harus direktur utama yang boleh tanda tangan. Tidak bisa hanya direktur seperti saya waktu itu. Tapi, saya tetap tidak mau jadi Dirut. Jangan sampai saya minta jadi Dirut. Apalagi, sampai harus dengan cara sikut sana-sini.

Bahwa ada kesulitan di bank, tiba-tiba saya punya ide baru yang barangkali tidak lazim. Inilah gunanya ilmu mantiq (logika), pikir saya. Saya ciptakan sendiri jabatan baru, meski hanya untuk sebutan: CEO (chief executive officer). Agar saya bisa meyakinkan bank bahwa meski saya hanya direktur, tapi saya ini CEO. ’’CEO yang tidak ada SK dan legal formalnya. He he…” kata saya dalam hati. Tapi, bank percaya. Apalagi mereka juga tahu sayalah yang selama ini yang selalu mengambil keputusan. Maka lahirlah ’’jabatan CEO’’.

Baru setelah lima tahun lebih, setelah beliau sendiri yang minta, saya mau jadi Dirut. Sebutan CEO telanjur melekat. Lalu keterusan sampai sekarang. Bahkan, saya membuat sebutan (untuk membedakan dengan ’jabatan’) CEO lebih fleksibel lagi di grup yang saya pimpin. Bisa saja Dirut sebagai CEO, direktur sebagai CEO (Dirutnya bukan CEO), bahkan general manager sebagai CEO (semua direktur bukan CEO). Lebih dari itu sekarang ini berkembang seperti di AS. Meski saya bukan direktur utama lagi (karena jabatan itu sekarang dipegang Ratna Dewi Wonoatmodjo), saya yang tetap jadi CEO. ’Chairman yang CEO’.

Tentu tidak lagi seperti ketika Dirut merangkap CEO. Banyak hal sudah harus dialihkan menjadi tanggung jawab Dirut. Apalagi Ratna Dewi juga amat mampu. Sama dengan saya. Setidaknya sama-sama hanya tamatan SMA. Dia SMA di kota Surabaya (Petra), saya SMA di Desa Takeran, Magetan (aliyah).

Hanya namanya yang sering bikin salah paham orang asing. Pernah ada tamu dari India yang ingin bertemu dengannya. Waktu itu Ratna Dewi masih menjabat direktur keuangan. Si tamu ternyata berharap akan ketemu seorang direktur keuangan keturunan India. Maklum namanya Ratna Dewi. ’’Kami tidak menyangka kalau dia seorang Tionghoa,” kata tamu itu sambil tertawa ngakak. Kami sendiri tidak terlalu mengenal nama Ratna Dewi, sehingga kalau ada tamu yang menanyakan, ’’Apakah bisa bertemu ibu Ratna Dewi”, staf-staf kami sering bengong. Dia kami kenal sebagai Wenny saja. Bukan ’’Bu Wenny’’, tapi ’’Cik Wenny’’.

Gosip bahwa ’’saya segera meninggal dengan wajah hitam’’ juga beredar di kalangan pesantren saya sendiri. Sebagian mengira saya dimurka Tuhan karena kurang taat beragama. Sebagian lagi karena saya berdosa kepada leluhur. Terutama karena saya ’uzlah’, lari dari tanggung jawab menjadi kiai. Mereka tidak tahu kalau ’uzlah’ itu saya lakukan sebagai wujud sikap tawaduk saya.

Tentu ada juga yang menyamakannya dengan Cak Nur. Padahal, saya dan Cak Nur jauh sekali derajatnya. Cak Nur seorang intelektual, doktor lulusan Chicago, ahli agama, bisa banyak bahasa, termasuk Prancis dan Parsi, Inggris, dan Arab. Saya hanya seperti itu tadi. Saya dan Cak Nur seperti langit dan sumur -untuk menunjukkan jarak langit-bumi kurang jauh.

Satu-satunya yang menyamakan saya dan Nur adalah sakitnya. Sama-sama sakit liver, sama-sama sirosis. Karena itu, juga sama-sama menghitam di wajah. (Bersambung)

Source

Serial “Pengalaman CEO Jawa Pos Dahlan Iskan Ganti Liver (23) “

Datang Tawaran Liver Hidup dari Orang Muda asal Bandung

SAYA hampir kehilangan momentum. Kedatangan saya untuk antre transplantasi liver ini agak terlambat, meski belum fatal. Sebulan setelah saya menunggu, keluar peraturan baru: tidak gampang lagi pasien asing mendapatkan donor. Tapi, mestinya, saya belum terkena peraturan itu karena saya sudah mendaftar sebelum itu.

Pasien asing banyak yang gelisah. Dulu-dulunya, waktu menunggu sering tidak sampai sebulan. Saya pun datang dengan harapan seperti itu. Apalagi di lengan saya sudah dipasangi saluran infus sampai ke dada, sebagai persiapan transplantasi yang sudah dekat. Tapi, ternyata terhalang aturan baru itu.

Saya memutuskan sabar menunggu. Tapi, setelah dua bulan tidak juga ada tanda-tanda akan mendapat donor, saya ingin pulang dulu dua hari. Kali ini untuk menyelesaikan urusan di Kalimantan Barat. Saya merasa punya tanggung jawab yang belum saya penuhi.

Sebagaimana juga di Kaltim, saya ingin ikut mengatasi krisis listrik di Kalbar. Gubernurnya sudah sangat mendambakan turun tangan saya, mengingat krisis listrik di sana sudah berlangsung lebih dari lima tahun. Krisis listrik di Kalbar lebih parah daripada di Kaltim. Maka saya bersama gubernur dan Dirut PLN menandatangani MoU pembangunan PLTU di Pontianak.

Untuk menunjukkan keseriusan, saya langsung membeli tanah 20 hektare di lokasi yang paling cocok untuk itu. Juga melakukan perundingan dan penandatangan kontrak mesin-mesin di Tiongkok. Namun, beberapa waktu kemudian ternyata PLN melakukan tender untuk pembangunan PLTU itu, tanpa sedikit pun memberi informasi kepada saya bagaimana nasib MoU yang sudah dibuat.

Kami tidak mau ikut tender itu karena merasa PLN tidak beretika sama sekali. Dan lagi, saya memang tidak dalam posisi mencari proyek. Saya hanya ingin ikut mengatasi krisis listrik di Kalbar, sebagai awal dari membangun Kalbar lebih lanjut. Provinsi itu sangat kasihan. Tidak kaya sumber alam dan tidak punya proyek besar. Investor yang mau datang pasti mengeluhkan listrik.

Tender itu berjalan lancar dan itu memang proses yang benar. Tapi, pemenang tendernya, sampai tulisan ini dibuat, tidak ada tanda-tanda fisik mulai membangun PLTU. Berarti Kalbar kehilangan lagi waktu tiga tahun. Jelek sekali nasib Kalbar. Juga nasib (tanah) saya. Memang, suatu ketika, kira-kira dua tahun lalu, peserta tender ingin mengajak saya bergabung membangun PLTU tersebut. Tentu saya tidak mau kalau modal dia hanya selembar kertas izin. Dia juga menanyakan apakah tanah kami akan dijual. Tentu saja tidak. Kami bukan spekulan atau jual beli tanah. Kami serius membeli tanah tersebut untuk PLTU.

Memang bukan salah saya kalau sampai hari ini belum ada tanda-tanda konkret krisis listrik Kalbar akan teratasi. Tapi, setidaknya saya bertanggung jawab untuk mewujudkan sesuatu di sana. Terutama sebagai ungkapan terima kasih kepada masyarakat setempat bahwa koran kami di sana menjadi yang terbesar.

Karena itu, saya bertekad menggunakan dana yang sudah saya siapkan untuk PLTU ke proyek lain: perkebunan rakyat. Yakni, mengolah hasil pertanian rakyat yang selama ini harganya selalu hancur-hancuran di musim panen. Proyek itu harus berjalan. Banyak pengungsi Madura akibat kerusuhan etnis pada 1999 itu yang mulai bekerja di proyek ini. Saya harus datang ke sana untuk membuat keputusan yang terpenting.

Saat saya menyelesaikan urukan Kalbar itulah, sebenarnya ada donor yang potensial. Dokter mencari-cari saya apakah bisa membatalkan kepergian saya ke Indonesia. Tapi, saya sudah di atas pesawat. Tapi, beruntung bahwa ternyata donor potensial itu ternyata juga tidak cocok untuk saya.

Saya harus menunggu lagi entah berapa lama. Orang-orang Pakistan mulai mencari jalan sendiri. Yakni, mendatangkan donor dari negaranya. Yakni, donor orang hidup. Mereka mencari salah satu keluarganya, atau sukarelawan, yang mau menyumbangkan separo livernya untuk dicangkokkan ke pasien. Ini mungkin karena liver adalah satu-satunya organ tubuh yang kalau dipotong bisa tumbuh utuh lagi.

Hanya operasinya lebih sulit: Orang yang sehat dibedah, lalu livernya dipotong separo. Pada saat yang sama, si calon penerima (resipien) liver juga dibedah untuk membuang (seluruh) livernya yang sudah rusak. Setelah itu, potongan liver yang sudah dilepas dari tubuh pemiliknya ditanamkan ke tubuh si penerima.

Seseorang bisa hidup normal dengan liver yang hanya separo karena liver atau hepar atau hati adalah satu-satunya organ yang bisa tumbuh kembali dengan cepat. Berbeda dengan ginjal dan organ lain. Karena itu, sekali orang kehilangan ginjal, ya sampai meninggal, ginjalnya tetap satu. Beda dengan donor liver. Hari ini separo livernya didonorkan, besok pagi sudah tumbuh lagi. Dan dalam tempo tiga minggu sampai maksimal sebulan, liver yang dipotong itu sudah akan utuh kembali.

Dengan begitu, seorang donor juga tak perlu tinggal berlama-lama di rumah sakit. Hanya dalam tempo dua tiga hari pascaoperasi, dia sudah boleh latihan berdiri dan berjalan. Seminggu berikutnya dia sudah bisa beraktivitas lagi. Tapi, memang masih harus ekstrahati-hati karena tiga sayatan panjang bekas operasi di perutnya masih basah.

Lantas bagaimana nasib potongan liver yang sudah berpindah tubuh tadi? Ini pun tak perlu dikhawatirkan karena dalam tempo maksimal tiga bulan, potongan itu sudah akan tumbuh menjadi liver yang utuh sebagaimana orang normal. Karena itu, di negara-negara yang jumlah donor mayat (cadaver)-nya terbatas, livernya dibagi dua. Jadi, satu liver untuk dua pasien. Di Tiongkok, umumnya masih satu liver untuk satu pasien. Termasuk saya.

Menjelang transplantasi, Robert menemui keluarga-keluarga Pakistan itu untuk mempelajari bagaimana praktik cangkok liver dengan donor hidup. Dia menjadi amat yakin itu juga akan berhasil. Lalu mengajak salah satu pendonor ke kamar saya.

“Dia mendonorkan livernya dua minggu yang lalu,” kata Robert sambil menepuk bahu anak muda Pakistan itu. “Sekarang sudah jalan-jalan dan mau saya ajak ke sini,” tambahnya.

Anak itu sendiri, yang bahasa Inggrisnya bagus sekali, lantas menceritakan mengapa mau melakukan itu, mengapa berani, dan bagaimana kondisinya sampai saat itu. “Liver saya yang setelah dipotong tinggal 9 cm, sekarang sudah menjadi 16 cm lagi. Dua minggu lagi sudah kembali utuh seperti semula,” katanya. Lalu dia menunjukkan perutnya yang masih dibebat untuk mengeringkan luka akibat pembedahan.

Bagaimana dengan penerima livernya? “Bapak itu juga mulai baik. Liver saya yang di sana, yang semula hanya 11 cm, hari ini sudah 17 cm,” katanya sambil menggambar di papan tulis tentang bagaimana livernya tumbuh kembali, baik yang masih di dalam tubuhnya maupun yang sudah pindah ke tubuh orang lain.

Saya amat yakin dengan jalan itu. Saya juga memutuskan akan melakukannya. Saya tidak yakin bisa dapat donor utuh dalam waktu dekat. Saya harus berhitung dengan sirosis dan kanker saya yang sedang berlomba dengan waktu. Kalau saya menunggu terlalu lama, bisa jadi fungsi liver saya akan keburu memburuk. Dan, karena penurunan fungsi itu bisa merusak pertahanan tubuh saya, sel-sel kanker yang mungkin masih tersisa di liver saya bisa menyebar (metastase) ke mana-mana. Saya butuh melangkah cepat.

Mulailah saya melihat ke istri, anak-anak, dan keponakan-keponakan. Ternyata, tidak satu pun yang darah dan rhesus-nya sama dengan saya. Beberapa teman dekat yang siap mendonorkan separo livernya juga tidak ada yang cocok darahnya. Tapi, jalan tidak buntu. Tanpa kami cari, seseorang dari Jakarta menghubungi kami. Memberitahukan perihal seorang anak muda dari Bandung yang mau secara sukarela mendonorkan livernya. Darah maupun rhesus-nya cocok sekali dengan saya. Umurnya masih 32 tahun. Badannya yang tinggi tegap sangat sehat.

Anak muda itu mengatakan tidak menginginkan apa pun kecuali menyelamatkan nyawa saya. Apakah harus dengan mempertaruhkan nyawanya sendiri? Dia bilang, dia sudah menghitung risikonya. Mengapa dia begitu berani? Karena, dia bilang, dia ingin menebus penyesalannya yang tak sempat menyelamatkan bapaknya yang keburu meninggal sebelum tranplantasi dilakukan.

Tim kami segera ke Bandung melihat keadaan rumah tangganya. Semula kami memperkirakan harus membantu kehidupannya. Ternyata, dia cukup berada. Rumahnya baru, tidak kecil, di kompleks perumahan yang cukup mewah. Mobilnya juga masih gres dari merek yang tidak murah. Handphone-nya pun Communicator seri terbaru. Anak keduanya baru bisa berjalan. Sikap istrinya, di luar dugaan: Sangat mendukung keputusan suaminya.

Kami pun makin percaya bahwa tidak ada motif komersial di balik niatnya yang mulia itu. Tapi, saya sendiri juga masih berpikir, haruskah sampai mengorbankan nyawa orang lain? Tidakkah lebih baik saya menunggu dengan risiko tidak keburu sekali pun? Bukankah membuat keputusan melakukan transplantasi saja sudah tersirat tekad untuk mungkin mati?

Saya benar-benar sudah siap kalau harus mati. Saya punya filsafat tersendiri dalam menyikapi umur. Yakni, filsafat “intensifikasi umur”. Umur pendek tidak apa-apa asal penggunaannya sangat intensif. Sikap ini muncul, barangkali karena saya melihat kok ibu saya, kakak saya, paman-paman saya berumur pendek. Saya kurang melihat bahwa bapak saya dan kakak sulung saya berumur panjang sekali.

Tim kami terus mendesak agar saya jangan berpikir bahwa saya akan mengorbankan orang lain. Terutama Robert Lai. “Dia tidak akan jadi korban. Dia juga akan memiliki kembali livernya secara utuh,” kata Robert. Saya masih keberatan, tapi diam-diam tim kami terus menyiapkan saudara dari Bandung itu untuk siap berangkat ke Tiongkok. Dia juga menyatakan sudah siap kapan pun harus berangkat.

Bersamaan dengan persiapan pemberangkatan saudara dari Bandung itulah, ada kabar bahwa saya mendapatkan donor. Transplantasi pun dilakukan dengan cara membuang sama sekali hati saya yang lama dan menggantinya dengan hati baru made in 1985-an secara utuh. (Bersambung)

Source

 Serial “Pengalaman CEO Jawa Pos Dahlan Iskan Ganti Liver (22) “

Ingin Naikkan Albumin, Berburu Banyak Ikan Kutuk
SETELAH hati mantap melakukan transplantasi, barulah saya menentukan langkah. Ada tiga yang harus dipertimbangkan. Kehebatan dokter, kesediaan donor, dan ketepatan rumah sakitnya. Dari situ baru kami tentukan tempatnya. Tiga faktor itu saya sebut sebagai ‘’persyaratan mutlak’’. Lalu masih ada sejumlah ‘’persyaratan keinginan’’. Misalnya, kedekatan dengan Indonesia, kedekatan budaya, dan kedekatan bahasa.

Saya sudah terbiasa, dalam setiap akan mengambil keputusan, menjalankan satu proses yang disebut problem solving. Satu proses untuk melakukan pembobotan dan penilaian atas semua pilihan. Lalu mengalikan bobot dan nilai. Hasil perkalian tertinggi, itulah pilihan terbaik. Saya pernah disekolahkan untuk itu di Lembaga Pendidikan dan Pengembangan Manajemen (LPPM) ketika saya masih jadi wartawan majalah berita mingguan TEMPO.

Proses manajemen itu kemudian saya bawa juga ke dalam jurnalistik. Saya ajarkan sebagai doktrin di Jawa Pos. Itulah yang membedakan wartawan Jawa Pos dengan wartawan lain. Wartawan Jawa Pos harus menjalankan ’10 rukun iman’ atau ‘Ten Commandments” yang saya tentukan. Itulah salah satu sumbangan ilmu manajemen ke dalam praktik jurnalistik di Jawa Pos. Tentu hal ini tidak diajarkan di fakultas publisistik atau di akademi wartawan. Mungkin tidak akan diakui sebagai salah satu teori jurnalistik, tapi saya tidak peduli.

Proses yang sama saya terapkan dalam melakukan analisis problem-solving atas tekad saya yang sudah mantap melakukan transplantasi liver. Maka, tim menyeleksi dokter-dokter ahli transplantasi di dunia: Australia, Amerika, Jepang, Singapura, Belanda, dan Tiongkok. Dari masing-masing negara kita pilih satu nama. Kita pelajari track record-nya. Juga, terutama, umurnya. Saya ingin dokter yang berpengalaman, tapi masih muda. Tangan anak muda, menurut logika saya, akan lebih firm ketika memegang pisau bedah. Saya memang sangat pro anak muda. Saya percaya hanya yang muda yang bisa diajak balapan di segala bidang.

Dari proses itulah lantas kami pilih dokter ini. Umurnya masih 52 tahun dan badannya tinggi tegap. Penampilannya meyakinkan. Urat-uratnya kukuh, mengindikasikan akan kuat dalam menghadapi tekanan mental maupun fisik. Pengalamannya juga luar biasa. Sudah melakukan tranplantasi liver lebih dari 500 kali. Bahkan, sudah membukukan beberapa rekor: Rekor terbanyak, rekor transplantasi tanpa transfusi darah, rekor transplantasi untuk pasien usia dini (3 tahun), transplantasi untuk pasien tertua (76 tahun). Dia memperoleh pendidikan khusus untuk ini di Jepang. Boleh dikata, dialah dokter Tiongkok yang paling jago di bidang transplantasi liver.

Tapi, masih ada satu yang meragukan. Padahal, yang saya ragukan ini masuk dalam ‘persyaratan mutlak’. Artinya, mau tidak mau harus dipenuhi. Kalau hanya masuk ‘persyaratan keinginan’, barangkali bisa diabaikan. Apa itu? Tempat! Apakah di Tiongkok ada rumah sakit yang bagus sekali? Bukankah rumah sakit di sana terkenal joroknya?

Untuk ini Robert Lai memeriksa rumah sakit tempat dokter itu berada. Yakni, di satu kota di belahan utara Tiongkok. Untuk Indonesia kota ini tidak populer, tapi saya sudah mengenalnya dengan sangat baik. Berkali-kali saya ke kota itu. Kunjungan pertama saya ke sana sekitar 10 tahun lalu.

Hasil kunjungan Robert Lai sangat memberi harapan. Khususnya tower yang baru. Sangat bersih dan terawat. Alat-alatnya juga amat modern. Dan, reputasinya yang tinggi sebagai pusat transplantasi liver sudah sangat terkenal. Saya sendiri pun lantas mengunjunginya. Saya langsung jatuh cinta pada kunjungan pertama. Hati saya mantap sekali.

Masih juga ada satu pertanyaan: maukah dia menangani saya? Ada waktukah dia? Inilah tugas Robert berikutnya. Dan, dia selalu berhasil menjalankan misinya. Maka sudah tidak tengok sana-sini lagi: Di sinilah saya akan melakukan transplantasi liver. Saya mengenal baik kotanya, mengenal baik budayanya, dan sedikit banyak sudah bisa berkomunikasi dengan bahasanya. Sungguh tak terbayangkan bahwa tekad saya untuk belajar bahasa Mandarin lima tahun lalu ternyata saya sendiri yang akan memetik manfaat terbesarnya. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana kalau saya tidak bisa sedikit-sedikit berbahasa Mandarin.

Memang, sebagaimana yang dilakukan orang-orang Jepang dan orang dari negara-negara Arab, bisa saja mempekerjakan juru bahasa. Namun, tidak akan semulus kalau diri sendiri yang tahu bahasa itu. Bahkan, karena hampir selalu berbahasa Mandarin, saya sering tidak dianggap orang asing. Apalagi sosok saya yang sosok Asia. Bahwa kulit saya agak hitam, banyak juga orang dari wilayah selatan atau dari Hainan yang juga berkulit seperti saya.

Robert juga langsung memesan kamar terbaik, yang ada ruang tamunya, dapurnya, saluran internet-nya. Dia tahu saya tidak akan bisa hidup tanpa jaringan internet. Robert juga langsung menyewa apartemen untuk setahun, membeli mobil, mencari sopir, pembantu rumah tangga, dan juru masak. Dia tahu belum tentu transplantasi bisa dilakukan segera. Problem transplantasi adalah di kesediaan donor. Masa menunggu tidak bisa ditentukan.

Keluarga saya, dan juga Robert, tinggal di apartemen. Saya tinggal di rumah sakit. Istri saya tidur di ruang tamu. Untuk membunuh waktu saya memutuskan meneruskan belajar bahasa Mandarin. Dua kali sehari. Pagi 2 jam, sore 2 jam. Guo Qiang mencarikan gurunya: tiga gadis yang masih kuliah di tahun terakhir IKIP setempat.

Istri saya sering melihat bagaimana saya belajar. Lalu dia sumpek sendiri membayangkan sulitnya. Dia memilih mendengarkan lagu-lagu kasidah dari CD yang dia bawa. Atau mendengarkan ayat-ayat Alquran yang kasetnya dia beli di Makkah. Yakni, ayat-ayat mulai Al Fatihah sampai terakhir surat An Nas dari imam salat tarawih di Masjidilharam. Sudah beberapa tahun saya dan istri selalu di Makkah saat akhir Ramadan.

Kalau akhir pekan, saya pamit ke kota lain. Saya tahu tidak ada operasi pada Sabtu dan Minggu. Pada hari-hari seperti itu saya terbang ke provinsi lain. Saya boleh terbang-terbang asal masih dalam radius empat jam penerbangan. Maksudnya, kalau ada sesuatu yang mendadak (misalnya, tiba-tiba ada donor), saya bisa kembali segera.

Badan saya memang sangat sehat secara fisik lahiriah. Karena itu, saya sering lupa kalau di lengan saya sudah dipasangi selang kecil yang ujungnya ada di dekat jantung. Selang infus itu diperlukan kalau tiba-tiba harus transplan, sudah lebih siap.

Suatu saat saya ke Kota Dalian, satu jam penerbangan dari kota ini. Di salah satu plaza di sana, ada penjual raket squash dengan bola yang diikat tali karet. Kita bisa mencoba main squash tanpa harus lari-lari mengejar bola. Saya lupa akan selang infus di lengan saya. Saya main squash cukup lama. Keesokan harinya lengan saya sakit sekali. Sepanjang selang itu (mulai dari lengan sampai dada) kemeng sekali. (bersambung)

 Source

Serial “Pengalaman CEO Jawa Pos Dahlan Iskan Ganti Liver (20) “

Pro dan Anti-Transplan Bertinju Sengit dalam Pikiran
Image KALAU saja saya dulu peduli sedikit dengan badan saya, sebenarnya masih ada jalan agar terhindar dari transplantasi. Juga terhindar dari potong-limpa. Katakanlah suntikan interveron yang saya jalani sampai 70 kali (setiap dua hari sekali) itu tidak berhasil ‘’memingsankan’’ virus hepatitis B saya, tapi belakangan sebenarnya keluar obat baru yang harus diminum tiap hari. Agar virus yang tidak mungkin lagi dikeluarkan dari liver itu ‘’tidur nyenyak’’ saja di dalam liver. ‘’Bangun’’-nya virus hepatitis B akan langsung menyerang liver hingga kelak jadi sirosis.

Kalau toh obat itu juga tidak berhasil, masih ada obat lain yang lebih mahal. Nama generik obat itu Octreotide (karena saya tak boleh menyebut nama obatnya). Obat tersebut harus disuntikkan tiap dua hari sekali selama sembilan bulan. Harga obatnya saja, untuk sekali suntik, sekitar Rp1,1 juta.

Selain Octreotide, masih ada satu obat baru lagi yang juga harus disuntikkan ke saya selama sembilan bulan berturut-turut. Nama generiknya Thymalfasin atau Thymosin Alpha-1. Yang ini nyuntiknya sebulan sekali.
Antara satu dokter dengan lainnya memang masih berbeda pendapat mengenai keampuhan obat-obat itu. Tapi, bagi pasien yang ingin sembuh dan punya uang, pasti tergoda untuk mencobanya.

Sayang, saya tahunya sudah sangat terlambat. Baru dua tahun lalu saya mendapatkan informasi tentang obat-obat itu. Yang Anticavier saya ketahui dari dokter di Singapura. Sedang dua obat yang lain saya ketahui dari Prof Shao. Semua saya ketahui setelah liver saya menjadi sirosis. Dan bahkan ketika sirosis saya sudah berkembang ke kanker. Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali.

Karena itu, meski telat, saya tetap memakai obat-obat tersebut. Setidaknya, bisa membantu saya buying time. Mengolor waktu. Untuk memberikan kesempatan bagi saya memikirkan harus melakukan apa yang lebih mendasar. Termasuk mulai mempertimbangkan kata yang mengerikan itu: Transplantasi liver.

Waktu itu, kata ‘’transplantasi’’ sebenarnya masih jauh dari pikiran. Masak saya sampai harus melakukan itu? Masak saya separah itu? Masak tidak ada jalan lain? Masak tidak akan ada keajaiban? Masak tidak ada obat alternatif? Masak tidak ada dukun atau kiai yang linuwih (punya ilmu lebih)?

Tapi, saya harus tetap rasional. Tetap menggunakan pemberian Tuhan yang sangat berharga itu: Otak. Banyak teman menganjurkan juga untuk pindah ke jalur alternatif. Ke obat tradisional atau ke kekuatan supranatural. Baik yang kejawen maupun yang dibungkus religius. ‘’Siapa tahu ada rekayasa Tuhan di situ,’’ kata teman saya.

Rekayasa Tuhan? Apakah Tuhan punya hobi merekayasa? Saya lebih percaya bahwa Tuhan akan konsisten dengan sunatullah-Nya. Termasuk sunatullah bahwa kalau tidak melakukan imunisasi hepatitis, dia akan punya kemungkinan terjangkit hepatitis. Kalau sudah kena hepatitis, pasti akan mengarah ke sirosis. Dan kalau sudah sirosis, pasti akan menjadi kanker.

Karena itu, kosa kata ‘’transplan’’ sudah mulai masuk di bawah sadar. Meski bentuknya masih pertanyaan ‘’masak harus sampai transplan?’’, tapi itu juga berarti secara tidak sadar kata ‘’transplan’’ sudah mulai masuk dalam proses internalisasi ke pikiran saya. Satu proses awal dalam sebuah perjalanan spiritual untuk sampai pada kata akhir: Siap transplan.

Kalau persoalannya hanya sirosis (sirosis kok dibilang ‘’hanya’’), transplantasi masih bisa ditunda. Meski sirosis tidak bisa disembuhkan, tapi mungkin masih bisa diperlambat.
Begitu pula kalau masalahnya hanya kanker (kanker kok juga dibilang ‘’hanya’’). Sebab, masih ada tiga cara lain untuk mengatasinya, selain kemoterapi. Yakni, dengan memotong bagian yang terkena kanker, di-RFA (radio frequency ablation) atau di-TACE (trans arterial chemoembolization).

Masalahnya, liver saya sudah ‘’dikeroyok’’ sirosis dan kanker, sehingga tidak mudah untuk mengatasi kankernya. Misalnya, mau dipotong bagian yang ada kankernya. Itu tidak mungkin karena sirosis membuat permukaan liver saya mengeras. Permukaan liver yang mengeras itu, kalau dipotong, akan menyebabkan pendarahan hebat yang bisa membunuh saya. Pendarahan di liver sangat tidak mudah untuk dihentikan, sekalipun oleh dokter yang paling pintar.

Begitu pula kalau mau di-RFA atau dibakar dengan energi panas. Sebab, untuk membakar (mengablasi) sel kanker saya, dokter harus memasukkan sejenis metal berbentuk kail yang punya beberapa mata kail. Kail itu ditembuskan ke dalam liver melalui perut. Cara itu tentu sangat membahayakan saya karena mata kail tersebut harus lebih dulu menjebol permukaan liver saya, sebelum masuk ke sel kanker. Tindakan itu jelas bisa menyebabkan liver mengalami pendarahan.

Karena itu, diputuskanlah untuk membunuh kanker saya dengan metode TACE. Cara itu pada prinsipnya sama dengan kemoterapi. Bedanya, obat kemonya tidak diinfuskan seperti umumnya kemoterapi, melainkan diinjeksikan langsung ke sel kankernya melalui selang kecil panjang (kateter) yang dimasukkan melalui pembuluh darah besar di pangkal paha (arteri femoral).

Dengan bantuan fluoroscopy, sejenis sinar rontgen, kateter itu lantas didorong masuk sampai ke arteri (pembuluh darah yang membawa darah bersih dan sari makanan dari jantung) yang di hati.

Setelah obat kemonya menembus sasaran, dokter lantas memasukkan lagi obat lain, melalui kateter yang sama, untuk memblokir cabang-cabang arteri di liver yang melewati sel kanker saya. Ini perlunya untuk menutup akses makanan ke sel-sel kanker itu. Dengan begitu, diharapkan sel-sel kanker saya akan kelaparan dan tak lama kemudian mati.

Tindakan medis tersebut memakan waktu kurang lebih dua jam. Itu sudah termasuk mencabut kateter di pangkal paha saya dan membalut kuat-kuat bekas sayatan yang di paha. Selama hampir semalam saya tidak boleh turun ranjang karena khawatir luka sayatan itu terbuka, sehingga terjadi pendarahan. Kalau itu terjadi, akibatnya bisa fatal karena sayatan tersebut menembus sampai ke pembuluh darah besar di paha.

Jadi, kalau problemnya hanya sirosis dan kanker (Huh! Sirosis dan kanker kok masih dibilang ‘’hanya’’), transplantasi juga masih bisa ditunda dengan cara di atas.

Namun, persoalannya, akibat sirosis itu, bagian-bagian tubuh saya yang lain ikut rusak dan bisa saja jadi penyebab kematian yang lebih besar. Bahkan, kerusakan pada bagian tubuh yang masih baik akan terus terjadi. Kalau sampai tahun lalu, yang sudah ikutan rusak adalah saluran pencernaan, empedu, dan limpa saya. Kalau saya biarkan, barangkali ginjal, selaput perut, jantung, dan paru saya juga segera rusak.

Limpa saya saja sudah membesar. Sudah tiga kali lipat lebih besar daripada limpa orang normal karena darah yang tidak bisa lancar masuk ke liver mbendal (terpental) masuk ke limpa.

Limpa saya itu kian hari masih akan terus membesar. Lama-lama, kalau pinggang saya kena bola atau kena sodok, limpa bisa pecah: Mati. Tidak pecah pun, limpa yang membesar membuat darah putih saya menurun. Padahal, darah putih berfungsi, antara lain, menguburkan sel-sel darah merah yang mati. Sel darah merah memang harus mati dalam kurun waktu tertentu dan harus ‘’dikuburkan’’. Darah putihlah yang menguburkannya dengan cara ‘’memakan’’-nya. Pekerjaan mengubur dan menghancurkan bangkai sel-sel darah merah itu dikerjakan di limpa.

Tapi, karena limpa saya terus membesar, sel-sel darah putih yang baik pun ikut dikubur oleh organ itu. Makanya, saat itu jumlah darah putih saya terus menurun. Sementara bangkai sel-sel darah merah makin bertambah. Jadi, ke mana bangkai-bangkai darah merah tersebut? Itu juga membuat problem sendiri pada tubuh saya.

Karena darah putih yang sangat kurang itu, saya akan sangat gampang terkena virus. Daya tahan tubuh saya sangat menurun. Seharusnya kadar darah putih saya minimal 200. Saat itu tinggal 60-an. Kalau turun 10 poin lagi, saya sudah tak bisa bertahan dari infeksi. Padahal, saat itu, platelet saya juga terus menurun. Sehingga, sewaktu-waktu saya terancam mengalami pendarahan dari mana saja: dari mulut, hidung, telinga, bahkan dari lubang kemaluan. Semua itu gara-gara liver yang sirosis.

Ada yang lebih berbahaya lagi. Seperti yang sudah saya singgung sebelum ini, darah-darah yang mbendal itu juga memenuhi saluran percernaaan saya (varises esofagus). Akhirnya, dinding-dindingnya berubah jadi balon-balon berisi darah. Setiap saat bisa pecah. Misalnya, hanya karena terkena benda tajam seperti keripik atau tulang ikan atau roti kering. Karena itu, saya pernah takut makan ikan. Takut tulang-tulang kecilnya masuk ke tenggorokan, lalu melukai dan menusuk balon-balon itu. Saya bisa mati hanya oleh satu tulang ikan yang amat kecil.

Jadi, meski mungkin saya bisa membunuh sel-sel kanker dengan TACE dan berhasil memperlambat proses kerusakan total liver oleh sisrosis, proses kerusakan di organ lain ternyata tak bisa saya hentikan. Kecuali liver saya segera baik. Dan, untuk itu, cuma ada satu jalan: Transplantasi liver.

Maka, status kata ‘’transplan’’ pun meningkat dalam pikiran saya. Dari sekadar tamu yang sedang mampir menjadi penghuni utama. Lalu, bulatlah tekad saya: Ganti liver.

‘’Tapi, kalau gagal gimana?’’ tanya kubu yang anti-transplan di tim saya. ‘’Bukankah terlalu banyak contoh transplan yang gagal?’’ tambahnya.

Kegagalan transplantasi yang dilakukan tokoh Nurcholish Madjid (Cak Nur) sungguh menjadi alasan pembenar yang kuat sekali bagi kubu yang tidak setuju transplantasi. Kuat secara psikologis. Bukan secara rasional-teknis-medis.

Saya sudah biasa menghitung komposisi psikologis dan rasionalitas dalam setiap mengambil keputusan. Bahkan, saya sering merenungkan (yang sampai sekarang belum sampai pada kesimpulan) soal yang rumit dan peka ini: Khusyuk itu gejala religi atau gejala psikologi? Mengapa ada orang yang mudah khusyuk? Tapi, mengapa banyak juga yang sulit khusyuk? Sampai-sampai, ketika memulai sembahyang harus mengulangi takbir berkali-kali? Mengapa ada orang yang mudah menangis ketika berdoa? Mengapa ada yang tidak bisa menangis? Gejala agamakah? Gejala psikologiskah?

Saya bukan ahli psikologi. Juga bukan ahli agama. Tapi, sudah pasti pertimbangan yang lebih didominasi perasaan, saya kalahkan. Secara tidak formal, saya memang membentuk dua tim. Satu yang punya pendapat jangan transplan. Satunya lagi yang pro-transplan. Saya ingin mendapat pertimbangan yang arahnya berlawanan.

Tim yang pro-transplan mengemukakan, memang transplantasi Cak Nur gagal. Tapi, penyebabnya kan jelas: Virus Citomegali. Virus yang munculnya hanya dalam kasus transplantasi.

Tapi, bisa saja karena kondisi Cak Nur sendiri yang memang sudah lebih parah daripada kondisi saya saat ditransplan. Artinya, mungkin telanjur sangat parah. Kita tidak tahu pastinya. Dan ‘’kubu anti-transplan’’ di tim saya juga tidak tahu mengapa Cak Nur gagal.

‘’Pak Dahlan pun, kalau misalnya kankernya sudah sampai di vena porta (pembuluh darah balik yang utama di liver), mungkin juga akan lebih sulit,’’ kata pro-transplan. Atau, kalau ginjal dan paru sudah ikut rusak. Atau, ketika air sudah memenuhi rongga perut (ascites). Atau, ketika membran selaput dada sudah kena infeksi.

Tapi, kubu ‘’anti-transplan’’ di tim saya masih punya alasan lain. ‘’Katakanlah transplantasinya berhasil. Akan bisa bertahan hidup berapa tahun lagi?’’ katanya seperti sedang mulai memberikan pukulan tinju kepada tim saya yang pro-transplan.

Apakah tidak ada bibit kanker yang akan mbalik ke liver baru? Apakah bibit virus hepatitis B yang sudah ikut beredar di darah tidak menjangkiti liver baru? Lalu jadi sirosis lagi? Jadi kanker lagi?

‘’Katakanlah setelah transplan masih bisa hidup lima tahun lagi. Seperti kata dokter di Singapura itu. Apakah kalau tidak ransplan tidak bisa bertahan lima tahun lagi? Dengan obat-obat yang kian maju?’’ tanya tim yang anti-transplan.

Bertubi-tubi ayunan tinju dihokkan ke wajah tim yang pro-transplan. Lalu, ditutup dengan pukulan upper-cut yang telak: Sama-sama bisa bertahan lima tahun, mengapa harus berjudi dengan transplan?

Sebagai dewan juri yang harus adil, saya melihat tim pro-transplan sempoyongan. Sampai mau terlempar dari kanvas. Tapi, tali ring menyelamatkannya: Tapi, apakah kita harus membiarkan Pak Dahlan selama lima tahun menjalani kehidupan dengan kualitas yang buruk?

Harus selalu dikemo, di-TACE, keluar-masuk rumah sakit, tidak bisa makan enak, tidak bisa bekerja dengan baik? ‘’Itukah hidup? Untuk apa hidup kalau kondisinya harus tersiksa seperti itu?’’ serang tim pro-transplan tiba-tiba.

Kedua tim masih akan terus bertinju. Tapi, bel sudah menunjukkan bahwa waktu sudah habis. Pemenang sudah harus ditentukan sebelum salah satunya KO.

‘’Saya mantap dengan transplan,’’ kata saya. Semua diam. Keheningan terpecah oleh suara salah satu tim pro-transplan. ‘’Memang peran pasien sendiri amat menentukan. Kalau kita paksakan transplan tapi pasien tidak mantap, juga tidak boleh. Kemantapan tekad pasien akan menjadi kunci suksesnya. Begitu pasien ragu-ragu, kita sudah tiba pada kesimpulan transplantasi akan gagal,’’ katanya.

‘’Ya. Saya mantap transplan. Dengan segala risikonya,’’ kata saya.(bersambung)

Source

Serial “Pengalaman CEO Jawa Pos Dahlan Iskan Ganti Liver (19) “

Baru Tahu, Mengapa Dokter Pilih Potong Limpa

ANCAMAN infeksi yang serius setelah pemotongan (embolisasi) limpa, memang tidak dianggap enteng oleh Prof Shao. Apalagi, suhu badan saya, pada hari-hari pertama, naik sangat tinggi: Lebih dari 38 derajat Celsius. Tapi, semua bisa diatasi. Seminggu kemudian, suhu badan saya kembali normal dan stabil. Rasa sakit setelah pemotongan itu lebih hebat daripada transplantasi liver. Juga lebih lama: Sepakan penuh.

Selama sepekan itu pula Prof Shao dalam ketegangan. ‘’Sudah lima hari saya belum pulang. Saya tidur di rumah sakit, di kantor saya. Menunggui Anda,’’ ujar dr Shao. ‘’Sekarang Anda sudah stabil. Saya mau istirahat,’’ pamitnya. Penampilannya memang agak lecek. Tidak secantik ketika dalam keadaan segar.

Kalau sebelum operasi saya lihat dia sering berlinang air mata, kini ganti saya yang amat terharu. Saya minta maaf berkali-kali karena telah membuatnya tidak bisa pulang. Saya juga tabik tak henti-hentinya. Tabik dengan cara Cina. Ini untuk mewakili ucapan terima kasih saya kepadanya yang tidak terhingga. Begitu besar perhatiannya. Begitu tinggi tanggung jawabnya.

Saat itulah saya mengerti mengapa banyak dokter di Singapura memilih membuang saja limpa saya daripada memotongnya. Perawatan setelah pemotongan ternyata begitu sulit. Kebalikannya, perawatan setelah pembuangan limpa akan lebih mudah. Bahwa setelah limpa dibuang akan merepotkan pasien seumur hidup, itu kan sudah di luar tangung jawab dokter yang membuangnya. ‘’Mana ada dokter di negara lain yang mau menunggui pasien sampai lima hari tidak pulang,’’ kata saya dalam hati.

Tiga hari setelah libur, barulah Prof Shao menemui saya lagi di kamar rumah sakit. Wajahnya masih tidak terlalu cerah, seperti orang sakit. Matanya yang biasanya tajam, kali ini agak memerah. Bulu matanya yang hitam seperti bendera setengah tiang. Tahu sedang saya perhatikan, dia merasa risi. ‘’Dua hari saya flu,’’ katanya segera. ‘’Semua gara-gara Anda,’’ tambahnya.

Sekali lagi saya minta maaf berulang-ulang. Ternyata saya telah menyiksanya. Rupanya, begitu kondisi saya stabil, ketegangan lima hari yang mencekam dirinya hilang. Bersamaan dengan itu flu datang menyerang.

‘’Jadi, tiga hari di rumah tidak bisa menikmati,’’ katanya seperti ingin bergurau. Guraunya selalu ringan-ringan saja. Tidak pernah dikemukakan dengan lepas. Tertutupi oleh jabatan tingginya dan mungkin juga kekomunisannya.

Tiga pekan kemudian, badan saya sudah terasa enak. Lalu ingat lagi acara PLTU Kaltim dan gedung Expo Jatim yang sudah menanti. Saya tahu tidak akan diizinkan pulang. Tapi, saya harus pulang. Ini soal kebakaran rumah memang, tapi yang terbakar rumah sendiri, bukan rumah tetangga.

Pagi-pagi Guo Qiang, anak saudara angkat saya Mr Guo, saya minta menerjemahkan surat yang saya buat. Guo Qiang saya minta menuliskannya dalam bahasa Mandarin yang indah. Maksud saya yang akan bisa meluluhkan hati Prof Shao. Kemampuan bahasa Mandarin saya belum sampai pada tingkat untuk bisa dipakai merayu.

Surat itu saya mulai dengan pujian. ‘’Mungkin, Andalah dokter terbaik di muka bumi ini,’’ tulis saya di pembukaan surat. Setengah memuji, setengah memompa dadanya. ‘’Mana ada dokter yang mau lima hari tidak pulang untuk menunggui pasiennya?’’ saya menunjukkan fakta. Saya tidak mengada-ada, meski fakta itu memang saya pakai merayu.

Bait kedua saya manfaatkan untuk ucapan terima kasih. Lalu minta maaf. Baru pada bait ketiga saya ‘memperkosa’-nya. Yakni, memasukkan kalimat-kalimat merendah, tapi juga berisi memaksanya agar mengizinkan saya pulang. Saya juga mencoba lagi kemampuan ilmu mantiq yang saya pelajari di aliyah dulu.

Tiba-tiba dia masuk kamar saya dengan menggenggam surat itu. Wajahnya merah serius. Langkahnya cepat. Beberapa dokter muda yang mengikutinya sampai agak tertinggal di belakang. Pagi itu, yang mestinya melakukan kegiatan rutin, langsung diubah untuk menemui saya. Dari ekspresi wajah dan body language-nya, Prof Shao seperti tidak membaca alinea pertama. Rayuan saya ternyata telah diabaikannya. Guru besar ternama di bidang liver itu seperti langsung membaca alinea yang ‘memperkosa’-nya.

Bertatapan dengan saya, dia tidak langsung berkata-kata. Dia menatap wajah saya dengan tatapan multi-arti: Marah, kesal, dan gondok bercampur jadi satu. Mudah-mudahan masih terselip raya sayang di dalam campuran itu. Lama dia tidak berkata-kata. Sampai-sampai banyak dokter muda yang menunduk. Setelah menarik napas panjang, barulah dia mengucapkan kalimat yang bernada putus asa. ‘’Sudah saya duga,’’ katanya.

‘’Bukankah indikasi-indikasi dalam darah saya sudah menunjukkan bahwa saya kuat terbang jauh?’’ kata saya memecah kebekuan. Lalu saya menunjukkan hasil lab. ‘’HB saya 13, SGPT-OT saya mendekati normal, Plt saya sudah 120, tekanan darah juga normal,’’ kata saya.

Prof Shao seperti kian gondok. Mungkin merasa kok saya seperti sok tahu kedokteran. ‘’Semua itu benar,’’ jawabnya. ‘’Tapi, ada satu data yang saya sembunyikan. HBV-DNA Anda masih 15 juta. Padahal, seharusnya di bawah 100 saja,’’ katanya.

Saya terpojok. Tidak menduga sama sekali dia merahasiakan itu dari saya. Bahkan, saya tidak tahu apa hubungannya antara sakit saya dan HBV-DNA. Kami terdiam lama. Saya lihat Prof Shao mulai menitikkan air mata. Melihat itu, dokter-dokter muda yang menyertainya menyerahkan tisu kepadanya. Mata saya juga mulai berlinang. Saya dalam posisi sulit. Saya terjepit antara keharuan dan romantisme di satu pihak dengan rasa tanggung jawab di pihak lain. Tanggung jawab yang juga tidak kecil. Tanggung jawab dan risiko sebagai pimpinan. Tanggung jawab kepada rakyat Kaltim dan Perusda Jatim. Lalu muncullah keteguhan dalam hati saya untuk lebih mementingkan tanggung jawab itu.

Maka, saya putuskan untuk berbuat ini di depan Prof Shao. Turun dari tempat tidur dan ingin bergegas mencium kakinya. Ini sebagai tanda bahwa saya minta maaf yang dalam, tapi sekaligus minta dengan sangat agar diperbolehkan pulang. Dia tahu saya tidak pura-pura. Saya sudah hampir menubruk kakinya. Prof Shao bergegas mengangkat kepala saya. Dia menahan tangis. Robert Lai juga mengusap-usap matanya. Demikian juga istri saya.

Lalu Prof Shao menarik napas panjang. ‘’Ya, sudah. Tidak bisa dicegah. Saya akan izinkan. Tapi, obat yang saya siapkan nanti harus diminum,’’ katanya melemah. Kini ganti saya yang lebih banyak menitikkan air mata.

Besok paginya, dari rumah sakit saya langsung ke bandara. Saya pakai kursi roda selama dalam perjalanan pulang. Dengan diungkapkannya data soal kadar HBV-DNA saya, ternyata saya belum prima. Saya harus lebih hati-hati.

***
Kian hari kondisi saya kian baik. HBV-DNA saya juga menurun drastis. Seminggu kemudian sudah menjadi 1,5 juta. Sebulan kemudian sudah normal.

Kini saya sudah terbebas dari ancaman tiba-tiba meninggal. Juga sudah terhindar dari ancaman tiba-tiba perdarahan dari lubang-lubang tubuh saya. Apalagi, sebelum potong-limpa itu saya juga sudah dua kali melakukan TACE di Singapura. Yakni, mengusahakan pembunuhan atas dua kanker liver saya dengan cara dimasuki alat pembunuh lewat selangkangan saya.

Saya tahu semua itu tidak menyelesaikan persoalan. Sakit saya sudah terlewat parah. Semua itu hanya usaha untuk ulur-waktu, buying-time. Tapi, setidaknya saya kini punya kesempatan beberapa bulan untuk memikirkan cara terbaik mengatasi sirosis-kanker saya secara permanen. Termasuk mempertimbangkan untuk transplantasi.(bersambung)

Source

Serial “Pengalaman CEO Jawa Pos Dahlan Iskan Ganti Liver (18) “

Ketika Menggigit Pisang Berlumur Darah
SETUJUKAH dokter Singapura dengan pendapat Prof Shao dari Tianjin, Cina, tentang rencana pemotongan limpa saya?
‘’Kalau tujuannya untuk menaikkan platelet, memang OK,’’ katanya. Dia juga setuju kalau sampai platelet turun terus, ketahanan tubuh saya kian habis dan saya akan mengalami perdarahan dari setiap lubang yang saya miliki. Ini juga sama dengan penjelasan Prof Shao. Waktu itu saya juga tanya ke Prof Shao: Pada angka berapa perdarahan itu akan terjadi? Katakanlah platelet saya (yang seharusnya minimal 150) sekarang tinggal 60. Dan masih akan turun terus.

‘’Setiap orang tidak sama,’’ jawab dr Shao. ‘’Ada yang pada angka 60 seperti Anda sekarang sudah perdarahan,’’ tambahnya. ‘’Tapi, ada juga yang baru perdarahan ketika platelet-nya sudah 50,’’ katanya lagi. Kapan platelet saya akan turun sampai angka 50? Berapa minggu lagi? ‘’Tidak bisa diperkirakan begitu. Bisa saja tiba-tiba drop jadi 50 atau bahkan di bawahnya,’’ katanya. ‘’Perhatikan saja lubang hidung Anda. Atau telinga. Atau kalau sedang sikat gigi,’’ tambahnya.

Meski setuju platelet saya harus dinaikkan, dokter Singapura ternyata tidak setuju kalau itu dilakukan dengan cara memotong limpa. ‘’Dibuang saja sekalian,’’ ujarnya. Uh! Dalam istilah medis, pembuangan limpa itu disebut dengan splenectomy.

Mendengar kata ‘’limpa dipotong’’ saja, saya sudah tidak senang. Ini malah disuruh membuang. ‘’Tidak apa-apa. Orang bisa hidup tanpa limpa,’’ tambah dokter di Singapura itu. Memang, orang bisa hidup tanpa limpa. Tetapi, kan lantas tidak terlalu tahan terhadap infeksi. Makanya saya tanya ke dokter di Singapura itu. Fungsi limpanya bagaimana? ‘’Diganti obat,’’ jawabnya.

Pemotongan limpa, menurut dokter Singapura itu, sangat berbahaya. Bisa timbul infeksi di tiga tempat yang akan mengakibatkan kematian. Yakni, infeksi di selaput

dada, infeksi di tempat limpa dipotong. ‘’Singapura sudah lama tidak mau lagi memotong limpa. Sudah lebih 15 tahun,’’ katanya. ‘’Membuang limpa sama sekali malah lebih safe,’’ tambahnya.

Penjelasannya, meski singkat, sangat masuk akal. Saya bisa menerima sepenuhnya. Tapi, saya juga berpikir: Masak Prof Shao tidak tahu itu. Tidak mungkin, rasanya. Maka saya tidak begitu saja mengambil keputusan membuang limpa. Nanti, dalam kesempatan saya ke Cina lagi, saya akan menemui Prof Shao untuk ‘menguji’-nya. Itu, tentu, kalau masih sempat.

***

Saya memang harus ke Cina lagi. Ada beberapa urusan. Urusan Jawa Pos sendiri, urusan pabrik steel conveyor belt-nya perusahaan daerah Jatim, urusan perusahaan daerah Kaltim, dan urusan menepati janji. Saya sudah berjanji kepada Dirjen minyak dan gas yang baru untuk mengajaknya ke Cina. Untuk melihat bagaimana negara itu bekerja keras mencukupi kebutuhan minyak.

Sudah lama saya gemas, mengapa Indonesia sebagai negara penghasil minyak justru menderita ketika harga minyak dunia membubung? Sampai harus menaikkan harga BBM yang menghebohkan itu? Mengapa tidak justru menikmatinya? Ini semua karena produksi minyak Indonesia terus menurun dari tahun ke tahun. Terakhir, pada 2005, sudah berada di bawah satu juta barel per hari. Sudah sangat tidak layak menjadi anggota OPEC.

Kebetulan Dirjen Migas yang baru juga berambisi mengatasi hal itu. Saya ingin membantunya meski saya hanyalah rakyat biasa. Saya sering ke ladang minyak di Cina. Saya melihat betapa semangatnya orang di Daqing (Provinsi Heilongjiang) dan di Panjin (Provinsi Liaoning) menggali minyak. Padahal, sumur-sumur minyak di sana lebih dalam dan iklimnya juga lebih beku. Minyak yang didapat pun lebih jelek dibanding minyak mentah Indonesia. Tapi, semangat untuk menggalinya luar biasa. Dengan alat-alat yang lebih sederhana mereka bisa menghasilkan minyak lebih banyak.

Hari itu kebetulan Dirjen Migas punya acara di Shanghai. Maka, saya ingin mengajaknya mampir ke Liaoning dan Heilongjiang. Saya janjian bertemu di Kota Dalian. Di bandara kota itu pukul 24.00, yakni saat pesawatnya mendarat dari Shanghai.

Paginya saya masih di kota Tianjin, untuk bertemu Prof Shao. Kepada ahli penyakit liver ini langsung saja saya semprotkan pertanyaan berdasar pendapat dokter di Singapura. ‘’Di Singapura dokter tidak mau lagi memotong limpa. Di sana cara itu sudah dianggap kuno,’’ kata saya. ‘’Siapa bilang itu kuno?’’ sergahnya. Suaranya meninggi. ‘’Justru membuang limpa itu yang kuno sekali. Itu cara 60 tahun yang lalu,’’ katanya.

Ketika saya tanya soal risiko infeksi di tiga tempat yang sangat membahayakan, dia tidak mengelak. ‘’Tentu saya tahu. Tapi, juga tahu cara menghindarinya,’’’ katanya. Jawabannya tegas, mantap, dan percaya diri. Tinggal saya yang harus memilih lebih percaya kepada yang mana. Dua-duanya masuk akal. Dua-duanya bisa diterima secara medis. Ini soal pilihan. Giliran saya sendiri yang harus memutuskan.

Segera saya gunakan ilmu mantiq saya: Sudah berapa kali Prof Shao melakukan pemotongan limpa? ‘’Sudah banyak kali,’’ katanya. ‘’Banyak itu berapa? Berapa puluh?’’ tanya saya lagi. ‘’Sudah lebih dari 500,’’ jawabnya mantap. Ya, sudah. Saya pilih dipotong saja. Biar berkurang, tapi masih ada sisanya. Saya ingat usul-fikh ahli sunnah wal jamaah: Sesuatu yang tidak bisa dipakai semua, jangan dibuang semua.

Maka saya pun memutuskan akan titip nasib ke Prof Shao. Tapi, sore itu saya harus ke Dalian, karena tengah malam nanti harus menjemput Dirjen Migas di bandara kota itu. Penerbangan dari Tianjin ke Dalian memakan waktu satu jam. ‘’Saya minta izin ke Dalian dulu. Rumah besar saya, Indonesia, akan terbakar,’’ gurau saya kepada Prof Shao. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya. Menarik panjang napasnya.

Tiba di Dalian sudah agak malam. Sudah waktunya makan malam. Saat makan malam itulah saya kaget. Ketika saya menggigit pisang, sisa pisang itu berlumur darah! ‘’This is the time! Wo de shi jian dao le. Tibalah sudah waktu saya,’’ kata saya dalam hati. Saya menundukkan kepala sesaat. Memikirkan apa yang harus saya perbuat.

Saya lari ke toilet. Berkumur. Merah airnya. Berkumur lagi dan berkumur lagi. Ah, hilang merahnya. Satu jam kemudian saya berkumur lagi, tidak ada darahnya.

Saya pun bertekad tetap memenuhi komitmen saya. Saat menyalami kedatangan Dirjen Migas, saya tidak menceritakan apa yang terjadi atas diri saya. Saya terus tersenyum dan memberinya semangat untuk terus membangun dunia minyak. Saya tahu tekadnya kuat sekali untuk memperbaiki perminyakan Indonesia, dan karena itu saya antusias membantunya.

Pagi-pagi kami bermobil sejauh 400 km ke Panjin. Petangnya bermobil lagi ke kota Shenyang. Malamnya terbang ke kota Harbin. Pagi-pagi bermobil 500 kilometer ke kota Daqing. Dirjen serius sekali melihat semua itu. ‘’Mereka ini benar-benar seperti koret-koret (mengais sisa-sisa) minyak,’’ katanya. Malam hari balik lagi ke Harbin. Pagi-pagi Dirjen kembali ke Beijing untuk balik ke Indonesia. Saya terbang ke Tianjin untuk pemotongan limpa saya.

‘’Lakukan sekarang!’’ kata saya begitu bertemu Prof Shao.

‘’Apa?’’ tanyanya.

‘’Potong saja limpa saya,’’ kata saya.

‘’Mengapa?’’ tanyanya lagi, kali ini seperti tidak percaya. Juga gondoknya kepada saya meningkat. Dia sudah sering mengancam untuk tidak mau lagi mengurus saya. ‘’Wo bu guan ni,’’ katanya.

Tapi, saya tahu dia baik. Ujung-ujungnya luluh juga hatinya.

‘’Tidak bisa sekarang. Harus ada persetujuan istri Anda,’’ katanya.

‘’Saya bisa usahakan sekarang,’’ tegas saya.

Saya lantas menelepon istri saya. ‘’Kalau nanti ada teman Jawa Pos membawa formulir ke rumah, tanda tangani saja. Formulirnya dalam bahasa Mandarin, kita nggak tahu maksudnya,’’ kata saya. Istri saya tidak bertanya banyak. ‘’Saya akan operasi kecil,’’ kata saya tidak ingin menggundahkan hatinya.

Saya memang sudah beberapa kali operasi kecil. Yakni, untuk mengeluarkan benjolan yang ada di bawah kulit di beberapa bagian di tubuh saya. Saya langsung minta formulir persetujuan operasi dan memfaksimilikan ke Surabaya. Setelah ditandatangani istri saya, dikirim balik ke Tianjin.

‘’Ini persetujuan istri saya,’’ kata saya.

‘’Ini apa?’’ tanyanya melihat tanda tangan istri saya yang tidak lazim untuk mata orang Cina.

‘’Itu tanda tangan istri saya. Bentuknya tidak penting. Tapi, doa di balik tekenan itu yang penting,’’ kata saya ingin setengah memuji istri saya, setengah melucu.

Ternyata Prof Shao tidak tersenyum. Saya lupa kalau dia komunis, yang tidak tahu apa itu doa.

Dengan datangnya persetujuan istri saya, saya mengira operasi pemotongan limpa bisa dilakukan hari itu, atau besoknya. Ternyata harus tiga hari kemudian. Mengapa? Karena ruang operasinya baru saja dirombak. Hari itu baru selesai. Dan, saya tidak boleh menjadi pasien pertama yang menggunakannya. Jadi, tidak bisa tanggal 6 Oktober 2006. Harus 8 Oktober.

Padahal, saya ingin operasi itu dilakukan pada 6 Oktober. Lalu, sebagaimana dijelaskan Prof Shao, sebulan kemudian saya sudah akan bisa keluar dari rumah sakit. Setelah operasi, 8 jam saya tidak boleh bergerak. Lalu seminggu tidak boleh turun dari tempat tidur. Tiga minggu berikutnya harus tetap di rumah sakit.

Saya ingin operasi itu dilakukan tanggal 6 karena pada tanggal 7 bulan berikutnya ada acara penting di Indonesia: menandatangani persetujuan proyek PLTU Kaltim dan peresmian gedung Expo Jatim. Maksud saya, tanggal 5 sebulan kemudian saya sudah bisa keluar dari rumah sakit. Langsung ke bandara untuk pulang ke Surabaya. Tanggal 7 sudah menandatangani perjanjian PLTU Kaltim dengan konsorsium bank dan meresmikan gedung Expo Jatim. Saya tidak pernah membayangkan operasi pemotongan limpa ini akan gagal.

Namun, dengan mundurnya tanggal operasi, waktu recovery saya tidak cukup. Itulah sebabnya, saat upacara tersebut saya terlihat pucat. Keringat dingin memang memenuhi badan saya. Hari itu, ketika saya di panggung, seharusnya masih di atas tempat tidur di rumah sakit di Tianjin.(bersambung)

Source

« Newer Posts - Older Posts »